Menjaga Idealisme di Tengah Godaan Dunia Kerja

ilustrasi

BERKABAR.CO.ID – Memasuki dunia kerja ibarat terjun ke samudra luas dengan ombak yang tak selalu ramah. Ada gelombang besar bernama ambisi, ada arus bawah bernama kompromi, dan tak jarang, ada karang tajam bernama korupsi dan penyimpangan nilai. Bagi mereka yang sejak muda menggenggam idealisme tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, dunia kerja sering kali menjadi ujian paling berat.

Dulu, mungkin kita adalah mahasiswa yang berteriak lantang di jalanan. Turun ke jalan menuntut keadilan, mengecam korupsi, melawan ketimpangan. Kita percaya bahwa bangsa ini bisa lebih baik. Kita memuja tokoh-tokoh seperti Gandhi yang menolak kekerasan, atau Gus Dur yang memegang teguh prinsip kemanusiaan dan pluralisme, bahkan saat dunia politik mempermainkan nilai-nilai itu.

Baca juga: Daun Serai Miliki Banyak Manfaat Kesehatan, Simak Penjelasannya

Namun kini, dunia kerja menyodorkan realita yang tak semanis idealisme. Di balik meja kantor, kadang ada permainan licik. Dalam proyek-proyek besar, ada godaan suap dan gratifikasi. Ketika ingin naik jabatan, ada tuntutan loyalitas pada atasan yang tak selalu berjalan di rel kebenaran.

Lalu bagaimana? Haruskah idealisme dikubur demi karier?

Gandhi mengajarkan bahwa “kebenaran adalah Tuhan” Bukan sekadar kata, tapi jalan hidup. Artinya, mempertahankan nilai kebenaran adalah bentuk tertinggi dari ibadah bernegara. Maka, jika kita menggadaikan nilai itu demi kenyamanan sesaat, jangan-jangan kita  sedang mengabaikan capaian subtansi dari sila pertama bangsa kita sendiri.

Gus Dur pernah berkata, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan” Maka saat dihadapkan pada sesuatu yang kurang baik dalam situasi kerja, kebijaksanaan untuk tidak ikut-ikutan, walau dengan risiko tidak naik jabatan, adalah bentuk keberpihakan kita pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Baca juga: Seorang Pria Ditemukan Tewas Gantung Diri di Gang Orde Baru 2 Pontianak

Kita mungkin tak bisa menghindari sepenuhnya dari sesuatu yang kurang baik dalam situasi kerja. Namun menjadi berbeda adalah pilihan. Kerap kali kita harus bersinggungan dengan situasi yang kotor, tetapi kita tak harus menjadi aktor utama dalam permainan kotor itu. Kita bisa memilih untuk menjadi pelaku perubahan kecil, menjaga api idealisme tetap menyala di tengah kegelapan sistem.

Seperti kata Bung Karno, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang” Maka jika kita tak bisa sepenuhnya mengubah keburukan dalam sistem kerja, setidaknya kita jatuh sambil membawa harga diri dan integritas yang utuh sebagai bangsa yang luhur.

Baca  juga: Regenerasi Kader, GMNI Kalbar Gelar KTM Pra-Kongres GMNI Ke XXII

Pada akhirnya, ini tidak sesempit menjalankan kewajiban dan mendapatkan hak atau hanya sekadar soal sukses atau gagal dalam karir kerja. Ini adalah soal mempertahankan keberpihakan kepada hal yang benar, dimana sedikit dipilih oleh kebanyakan orang, jalan terbaik adalah memuliakan sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena ketika seseorang tetap memegang teguh nilai kebenaran, ia sedang menjalankan filosofi hidup, bukan sekadar sebagai pekerja, tapi sebagai manusia yang sadar arah dan tujuan.

Baca juga: Samsat Gokatan Diluncurkan, Kini Bayar Pajak Kendaraan Cukup di Kecamatan

Tulisan ini tentu hanyalah opini sederhana, sebuah refleksi pribadi yang lahir dari kegelisahan akan dunia yang terus berubah. Barangkali masih banyak kekurangan dalam sudut pandang maupun argumen. Namun semoga dapat menjadi pengingat kecil bagi siapa pun yang sedang berjuang menjaga nilai di tengah godaan yang besar. Karena idealisme bukan untuk ditinggalkan, tapi untuk diperjuangkan dengan cara yang arif dan manusiawi.(*)