BERKABAR.CO.ID – Pemerintah saat ini menggenjot hilirisasi industri bauksit untuk mengoptimalkan nilai tambah mineral. Kementerian Investasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi bauksit melonjak 143,58% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 53,1 triliun pada 2025. Tren positif ini berlanjut pada kuartal I-2026 dengan pencapaian investasi sebesar Rp 13,7 triliun.
Saat ini, belasan perusahaan membangun fasilitas hilirisasi bauksit di Indonesia. PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) menjadi salah satu motor penggerak utama melalui pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.
BAI sendiri telah menyelesaikan pembangunan SGAR Fase I berkapasitas 1 juta ton SGA per tahun pada 2025 dan memasuki tahap operasi penuh pada 2026. Direktur Utama BAI, Darwin Saleh Siregar, menyatakan fasilitas ini menghubungkan pasokan bauksit dari PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan smelter aluminium milik PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
“Kehadiran SGAR menjadi mata rantai yang selama ini hilang dalam industri aluminium nasional. Hampir 95% produk kami digunakan untuk industri aluminium smelter,” ujar Darwin beberapa waktu lalu.
BAI sendiri telah menggelontorkan investasi sebesar US$ 831,5 juta untuk membangun fasilitas ini. Perusahaan mengalokasikan 60% produksi SGA untuk memasok smelter Inalum di Kuala Tanjung. dan menjual 40% sisanya ke China dan India. Pabrik ini membutuhkan pasokan 3 juta hingga 3,2 juta ton washed bauksit yang berasal dari wilayah izin usaha pertambangan (IUP) ANTM di Tayan, Toho, dan Landak.
Baca juga: Sinergi Pusat dan Daerah: Optimalkan Hilirisasi Bauksit Lewat Ekspor Alumina Kalbar
Darwin menambahkan, pengoperasian SGAR meningkatkan nilai tambah komoditas bauksit hingga 10 hingga 11 kali lipat dibandingkan harga bijih mentah. Sementara itu, sekitar 5% produksi SGA dimanfaatkan untuk kebutuhan industri penjernih air dan kimia.
Kini, proyek SGAR Fase II memasuki tahap final investment decision (FID). BAI akan menambah kapasitas produksi sebesar 1 juta ton per tahun dengan nilai investasi US$ 890 juta. Perusahaan menargetkan fasilitas ini beroperasi secara komersial pada akhir 2028 atau awal 2029.
Pada saat yang sama, Inalum berencana membangun smelter aluminium kedua di Mempawah berkapasitas 600.000 ton per tahun.
“Jika kedua smelter Inalum beroperasi, kebutuhan alumina domestik diperkirakan mencapai sekitar 1,8 juta ton. Artinya, hampir seluruh produksi BAI dari SGAR Fase I dan II akan terserap di dalam negeri,” ujar Darwin.
Hilirisasi ini mendorong ANTM mengoptimalkan portofolio bisnis bauksitnya. Sekretaris Perusahaan ANTM, Wisnu Danandi Haryanto, mencatat produksi bauksit perseroan melonjak 112% secara tahunan menjadi 2,83 juta wet metric ton (wmt) pada 2025. ANTM mengalokasikan sekitar 2 juta wmt untuk memasok BAI.












