BERKABAR.CO.ID – Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan masyarakat berhasil mengevakuasi tiga individu orangutan dari area perkebunan di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, pada Jumat 21 Agustus 2026.
Tim melakukan evakuasi ini menyusul ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang merusak habitat dan memutus jalur pergerakan orangutan.
Tim menamai ketiga orangutan tersebut dengan nama Mama Yuni, Yuni, dan Pura. Mereka terdiri dari satu induk, satu bayi, dan satu individu remaja. Tim memutuskan untuk mengevakuasi satwa ini setelah mereka mendekati pemukiman warga. Api telah menghanguskan areal jelajah dan memutus konektivitas mereka menuju hutan.
Sejak awal 2026, tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI aktif memantau keberadaan tiga orangutan ini. Meskipun perkebunan masyarakat memfragmentasi hutan setempat, satwa ini awalnya masih bertahan hidup di sisa hutan. Namun, kebakaran besar pada Juli dan Agustus 2026 menghanguskan fragmen hutan terakhir yang menjadi sumber pakan mereka. Kondisi ini memaksa orangutan masuk ke kawasan perkebunan yang berbatasan langsung dengan permukiman.
Baca juga: Karhutla Meluas, BKSDA dan YIARI Evakuasi Orangutan ke Habitat Aman
Tim gabungan bergerak menuju lokasi sejak pagi hari dan menembus kabut asap pekat akibat karhutla yang masih berlangsung. Untuk meminimalisir risiko, dokter hewan menghitung dosis anestesi secara cermat berdasarkan estimasi berat badan satwa. Karena pergerakan orangutan sangat lincah, tim membutuhkan waktu delapan jam untuk menyelesaikan proses pembiusan terhadap ketiga satwa ini.
Setelah proses pembiusan berhasil, tim medis memeriksa kondisi fisik orangutan secara menyeluruh dan memberikan cairan infus. Setelah dinyatakan layak pindah, tim membawa ketiga orangutan menuju kawasan TANAGUPA. Tim menempuh perjalanan selama lima jam menggunakan kombinasi transportasi darat dan air. Tim memilih kawasan TANAGUPA karena asesmen menunjukkan lokasi ini menyediakan habitat yang aman dan sesuai untuk mendukung kehidupan orangutan liar.
Personel TANAGUPA dan masyarakat setempat membantu tim membawa orangutan masuk ke dalam hutan dan melepaskan mereka jauh dari akses masyarakat.
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai berulangnya kasus ini menunjukkan karhutla dan perubahan tutupan lahan menjadi tekanan jangka panjang bagi keberlangsungan orangutan.
“Kasus yang kembali terjadi di wilayah ini menunjukkan bahwa persoalan kebakaran dan perubahan tutupan lahan belum selesai. Ketika hutan terbakar dan koridor pergerakan terputus, orangutan kehilangan ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berpindah. Pada akhirnya, mereka terdorong masuk ke kebun dan semakin dekat dengan permukiman manusia,” ujar Silverius Oscar Unggul.
Ia menekankan bahwa tim harus mengiringi penyelamatan satwa dengan upaya serius untuk mencegah kerusakan habitat.
“Kalau kita hanya menyelamatkan orangutan ketika mereka sudah terjebak di kebun, kita sebenarnya sedang menangani akibat, bukan akar persoalan. Yang harus kita cegah adalah hilangnya habitat dan terputusnya koridor yang membuat orangutan tidak lagi memiliki ruang aman untuk hidup. Perlindungan orangutan pada akhirnya juga berarti melindungi masyarakat dari konflik dengan satwa liar,” tegasnya.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, menyambut baik kolaborasi penanganan ini. Ia memastikan pihaknya akan terus memantau proses adaptasi ketiga orangutan di habitat barunya.
“Kami menyambut baik sinergi dan kolaborasi seluruh pihak dalam upaya translokasi ini. Kawasan Taman Nasional Gunung Palung merupakan habitat alami yang aman untuk mendukung kelangsungan hidup orangutan. Pasca-pelepasliaran, tim kami di lapangan akan terus memantau pergerakan dan proses adaptasi Mama Yuni, Yuni dan Pura guna memastikan mereka dapat bertahan hidup dengan baik di rumah barunya. Kami berharap kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga kelestarian hutan dari ancaman karhutla demi menyelamatkan satwa endemik kebanggaan kita,”kata Prawono.
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menekankan pentingnya komitmen seluruh pihak untuk menjaga keutuhan hutan. Ia mengajak masyarakat mencegah kebakaran hutan dan lahan demi mendukung kehidupan manusia dan satwa liar secara berkelanjutan.***












