BERKABAR.CO.ID – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa sore 16 September 2025.
Rupiah ditutup di level Rp16.440 per dolar AS, melemah 24,50 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp16.415 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kebijakan pemerintah yang mengalihkan dana besar dari Bank Indonesia (BI) ke perbankan nasional.
Menurut Ibrahim Assuaibi, Pengamat Mata Uang dan Komoditas, langkah pemerintah mengucurkan dana Rp200 triliun dari BI untuk dijadikan kredit perbankan awalnya sempat menyegarkan pasar.
Namun, dalam perkembangannya, kebijakan tersebut justru dianggap menimbulkan ketidakpastian hukum.
Baca Juga : Rupiah Tertekan Dolar AS, Tapi Banjir Modal Asing Rp15 Triliun Bikin Pasar Domestik Tetap Perkasa!
“Awalnya cukup menggembirakan pasar, bahkan berbau politis untuk mendapatkan simpati publik. Namun, program ini berpotensi melanggar konstitusi, termasuk tiga undang-undang sekaligus,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa 16 September 2025.
Ibrahim menekankan, kebijakan penggunaan dana negara seharusnya melalui proses legislasi yang benar.
Anggaran semestinya dibahas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), disusun secara sistematis, serta diajukan dengan jelas mengenai kebutuhan dan program yang akan dijalankan.
Proses penyusunan APBN sendiri diatur dalam UUD 1945 Pasal 23, UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, serta UU APBN tahunan.
“Prosedur resmi ketatanegaraan harus dijalankan karena anggaran negara masuk dalam ranah publik, bukan anggaran privat. Jika kebijakan seperti ini terus berjalan tanpa aturan jelas, akan menjadi preseden buruk di masa depan,” tegas Ibrahim.
Baca Juga : Polres Singkawang Musnahkan 156,88 gram Sabu Senilai Ratusan Juta Rupiah
Ia juga menambahkan bahwa pejabat negara wajib menaati aturan main dan menjalankan program sesuai dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang berasal dari kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah.
Selain faktor domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen eksternal. Ibrahim menyebut bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, hampir pasti memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16–17 September 2025.
Fokus pasar kini tertuju pada proyeksi kebijakan The Fed ke depan serta rilis proyeksi ekonomi terbaru yang akan memengaruhi arah kebijakan moneter hingga akhir tahun.
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan ketegangan global dengan menyerukan sanksi tingkat kedua terhadap industri minyak Rusia. Langkah ini menargetkan pembeli utama seperti India dan China.
Baca Juga : Kerugian Kebakaran di Sungai Rengas Kubu Raya Capai Ratusan Juta Rupiah
Trump bahkan telah mengenakan tarif 50 persen terhadap India pada akhir Agustus 2025. Selain itu, ia mendesak NATO, Uni Eropa, dan negara-negara G7 untuk berhenti membeli minyak Rusia sekaligus memperketat tekanan tarif terhadap India dan China.
Meski rupiah melemah di pasar spot, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan penguatan tipis.
JISDOR tercatat di level Rp16.385 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya Rp16.405 per dolar AS. ***












