Rio Rahmadanu: Gaji Guru Belum Dibayar sebab SMK Koperasi Defisit Anggaran

Ketua Yayasan Dekopinwil Kalbar, Rio Rahmadanu.

BERKABAR.CO.ID – Ketua Yayasan Dekopinwil Kalbar, Rio Rahmadanu, mengklarifikasi pemberitaan mengenai dugaan intimidasi dan tunggakan pembayaran gaji guru di SMK Koperasi Pontianak . Ia menilai oknum guru yang memberikan keterangan kepada media tidak berkomunikasi secara komprehensif dengan pihak yayasan.

Rio membantah keras narasi intimidasi yang tersebar di media. Ia menegaskan bahwa tuduhan tersebut menyimpang dari fakta dan berpotensi memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Saya sangat menyayangkan sikap oknum guru tersebut. Ia tidak menempuh jalur komunikasi internal ke yayasan, tetapi malah membawa masalah ini ke media dengan narasi yang menggiring opini seolah-olah kami sengaja menahan gaji dan melakukan intimidasi,” tegas Rio.

Rio menjelaskan bahwa setiap persoalan di lingkungan sekolah naungan yayasan harus menempuh mekanisme penyelesaian yang berlaku. Ia meminta guru yang bersangkutan mengikuti seluruh tahapan penyelesaian sesuai ketentuan perundang-undangan yayasan, alih-alih menyampaikan keterangan cenderung tendensius ke publik.

Terkait polemik pembayaran hak guru, Rio memastikan bahwa pihaknya sudah mengonfirmasi kepala sekolah. Hasil konfirmasi menunjukkan bahwa yayasan telah memenuhi sebagian besar kewajibannya. Saat ini, pihaknya hanya menyisakan pembayaran selama dua bulan yang sedang mereka proses penyelesaiannya.

Lebih lanjut, Rio menegaskan bahwa pihak sekolah memikul tanggung jawab penuh atas pengelolaan keuangan operasional. Oleh karena itu, ia meminta seluruh pihak yang merasa memiliki kepentingan untuk mengonfirmasi masalah administrasi atau keuangan kepada yayasan terlebih dahulu sebelum menyebarkan informasi ke media.

Baca juga: Saldo Rp449 Juta Tersimpan, Guru Tak Digaji: Sengkarut Keuangan SMK Koperasi Terkuak

Di akhir pernyataannya, Rio menjelaskan akar permasalahan keuangan tersebut. SMK Koperasi mengalami defisit anggaran karena minimnya jumlah siswa, terutama pada kelas gratis di jenjang 11 dan 12. Kondisi ini menghambat sirkulasi keuangan di lingkungan sekolah.

Rio menilai situasi ini menjadi bahan evaluasi bersama. Ia meminta semua pihak menyelesaikan masalah tersebut melalui komunikasi yang baik, bukan menyebarkan narasi tendensius yang justru mencoreng nama baik sekolah.***