Dukung SIC 2026, YUBS Dorong Lahirnya Inovasi Hijau di Sintang

Jaga Kelestarian Hutan Sintang, YUBS Optimalkan SIC 2026 untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarkat Lokal.

BERKABAR.CO.ID – Yayasan Uncin Batu Senentang (YUBS) mendeklarasikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Sintang Innovation Challenge (SIC) 2026. YUBS memanfaatkan ajang ini untuk mendorong lahirnya inovasi hijau yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Ketua YUBS, Uni Qalbarri, menyampaikan dukungan tersebut seiring dimulainya SIC 2026 pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan tersebut mengusung tema “Green Innovation for Sustainable Sintang”

Uni melihat Kabupaten Sintang memiliki modal besar untuk membangun ekonomi hijau. Kawasan hutan dan wilayah bernilai konservasi tinggi yang masih luas memperkuat modal tersebut. Ia menegaskan bahwa masyarakat dan pemangku kepentingan harus mengelola potensi ini melalui inovasi. Ini diharapkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat adat dan komunitas lokal.

“Kami percaya bahwa masa depan Kabupaten Sintang dibangun melalui kolaborasi dan inovasi. Green Innovation for Sustainable Sintang bukan sekadar tema. Tetapi sebuah gerakan bersama untuk memastikan pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat adat. Komunitas lokal tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan,” ujarnya

Uni menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan dukungan ini ke dalam program Memperkuat Sosial Ekonomi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal (MAKL). Program ini melalui Pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi (NKT/HCV) yang Berkelanjutan di Kabupaten Sintang.

Melalui program tersebut, YUBS mendorong masyarakat menjadi pelaku utama yang mengelola sumber daya alam secara lestari. Langkah ini sekaligus membantu masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang berkeadilan.

Uni menilai pihaknya tidak hanya harus melindungi kawasan bernilai konservasi tinggi. Menurutnya, masyarakat dapat menjadikan kawasan tersebut sebagai sumber pertumbuhan ekonomi asalkan mereka mengelolanya secara bertanggung jawab.

Ia pun mengidentifikasi berbagai peluang usaha berbasis alam yang menjanjikan. Masyarakat bisa mengembangkan hasil hutan bukan kayu, kopi ladang, madu kelulut, ekowisata, produk pangan lokal, ekonomi kreatif berbasis alam, hingga jasa lingkungan.

“Melalui Sintang Innovation Challenge, kami ingin melahirkan generasi muda yang mampu mengubah potensi lokal menjadi peluang ekonomi hijau. Inovasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga cara baru mengelola alam, membangun usaha, memperkuat kelembagaan masyarakat. Selain itu juga menciptakan kolaborasi yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan,” katanya.

Baca juga: Lima Kabupaten di Kalbar Dorong Percepatan Pemekaran Kapuas Raya

Uni menilai pemerintah dan masyarakat menghadapi tantangan berat ke depan. Mereka tidak hanya harus menjaga kawasan hutan dan Nilai Konservasi Tinggi. Tetapi juga memastikan masyarakat sekitar memperoleh manfaat ekonomi dari kawasan tersebut.

Atas dasar itu, YUBS mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi. YUBS melibatkan pemuda, masyarakat adat, komunitas lokal, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, sektor swasta, hingga mitra pembangunan. YUBS memanfaatkan SIC 2026 sebagai momentum membangun ekosistem inovasi daerah yang inklusif.

“Dengan semangat Green Innovation for Sustainable Sintang, kami berharap lahir berbagai inovasi yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat, menjaga kawasan bernilai konservasi tinggi, dan menjadikan Sintang sebagai contoh pembangunan berkelanjutan berbasis kolaborasi,” tutupnya.***