Vlogger Jepang Gegerkan China! Unggahan Soal Pembantaian Nanjing Bikin Hubungan Memanas

Ilustrasi Tragedi Nanjing

BERKABAR.CO.ID – Hubungan China–Jepang kembali memanas di dunia maya setelah unggahan vlogger asal Jepang, Hayato Kato, viral di platform Douyin (versi lokal TikTok).

Kato, yang biasanya dikenal lewat konten lucu menjelajahi China, tiba-tiba mengunggah video bernuansa serius pada 26 Juli 2025.

“Saya baru saja menonton film tentang pembantaian Nanjing,” ucap Kato dalam bahasa Mandarin.

Ia merujuk pada tragedi kelam tahun 1937, ketika tentara Kekaisaran Jepang melakukan serangan brutal selama enam minggu di Nanjing, ibu kota China saat itu.

Diperkirakan 300.000 warga sipil dan tentara China tewas, dan sekitar 20.000 perempuan diperkosa.

Film yang dimaksud Kato, “Nanjing Photo Studio”, menceritakan perjuangan sekelompok warga yang bersembunyi di studio foto demi menghindari tentara Jepang.

Baca Juga : Menteri P2MI Dorong Siswa SMTI Pontianak Kerja ke Jepang, Tegaskan Jalur Resmi Wajib Ditempuh

Dibintangi aktor ternama, film ini menjadi box office sekaligus bagian dari gelombang film peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.

Dalam videonya, Kato menggambarkan adegan mencekam: “Orang-orang berbaris di tepi sungai, lalu penembakan dimulai… Seorang bayi, seumuran putri saya, menangis dalam pelukan ibunya. Seorang tentara Jepang merampasnya dan membantingnya ke tanah.”

Kato mengaku prihatin karena banyak warga Jepang, termasuk politisi, masih menyangkal tragedi itu.

“Kalau kita menyangkalnya, ini akan terjadi lagi,” tegasnya, sembari mengajak rakyat Jepang menonton film-film sejarah perang.

Baca Juga : Loudness, Band Heavy Metal Legendaris Jepang Akan Tampil di Rock In The Jungle 2025

Unggahan tersebut telah mengumpulkan lebih dari 670 ribu likes hanya dalam dua minggu. Namun komentar terpopuler justru mengutip dialog ikonik film itu: “Kita bukan teman. Kita tak pernah berteman.”

Bagi China, pendudukan Jepang menjadi bab paling kelam dalam sejarahnya. Luka itu diperparah oleh keyakinan bahwa Jepang belum sepenuhnya mengakui atau meminta maaf secara tulus atas kekejaman masa perang, termasuk soal “wanita penghibur” yang diperkirakan mencapai 200.000 korban di Asia.

Perbedaan narasi sejarah antara kedua negara terus memperburuk hubungan. China menekankan agresi militer Jepang sebagai trauma nasional, sementara Jepang lebih fokus pada narasi penderitaan akibat bom atom dan pemulihan pascaperang.

Baca Juga : Gempa 8,7 SR di Rusia Picu Tsunami, Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Terdampak

Pemerintahan Xi Jinping kini aktif membangkitkan ingatan sejarah lewat parade militer, film, dan dokumenter, termasuk rencana rilis film tentang Unit 731 — satuan tentara Jepang yang melakukan eksperimen manusia di Manchuria.

Meski Tokyo telah beberapa kali menyampaikan permintaan maaf, banyak warga China menilai sikap tersebut kontradiktif, apalagi ketika pejabat Jepang masih mengunjungi Kuil Yasukuni yang menghormati penjahat perang.

Profesor Gi-Wook Shin dari Universitas Stanford menegaskan, “Perang militer memang sudah berakhir, tapi perang sejarah masih berlanjut.”

Baca Juga : Terlibat Jaringan Penyelundupan Telur Penyu Internasional, Oknum TNI Ditangkap di Kalbar

Delapan dekade kemudian, pesan film itu tetap membekas di dunia maya China: “Kita bukan teman… Kita tak pernah berteman.” ***