Ribuan Warga Malaysia Demo Desak PM Anwar Ibrahim Mundur, Tuntut Pemulihan Ekonomi dan Tegaknya Hukum

Ilustrasi Aksi Demontrasi

BERKABAR.CO.ID – Ribuan warga Malaysia turun ke jalan pada Sabtu 26 Juli 2025 menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di pusat Kota Kuala Lumpur untuk menuntut Perdana Menteri Anwar Ibrahim mundur dari jabatannya.

Aksi ini merupakan bentuk ketidakpuasan publik terhadap kinerja pemerintah, terutama dalam menangani krisis ekonomi dan pelaksanaan janji kampanye.

Sekitar 18.000 orang memadati jalan-jalan utama sebelum berkumpul di Dataran Merdeka (Independence Square).

Massa yang didominasi pemuda dan mahasiswa mengenakan pakaian hitam serta ikat kepala bertuliskan “Turun Anwar”, sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai membebani rakyat.

Kenaikan biaya hidup, penghapusan subsidi, dan peningkatan pajak menjadi sorotan utama. Kebijakan ekonomi yang diterapkan Anwar Ibrahim seperti kenaikan pajak barang dan jasa (GST) serta pemangkasan sejumlah subsidi dinilai memperparah daya beli masyarakat.

Baca Juga : Ratusan Supir Truk Gelar Aksi Tuntut Ketersediaan BBM Subsidi di Kalbar

“Pajak itu dikenakan pada perusahaan manufaktur, dan pada akhirnya akan memengaruhi harga pangan di pasaran,” ujar Nur Shahirah Leman (23 tahun), mahasiswa yang tergabung dalam kelompok aksi mahasiswa Islam.

Sebagai respons atas tekanan publik, Anwar mengumumkan program bantuan tunai langsung dan peningkatan tunjangan bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Ia juga menjanjikan penurunan harga bahan bakar dalam waktu dekat. Namun, berbagai kelompok menilai langkah tersebut belum cukup menyelesaikan akar permasalahan.

Tak hanya isu ekonomi, kritik juga mengarah pada komitmen pemerintah dalam pemberantasan korupsi.

Sejumlah kasus hukum terhadap tokoh-tokoh yang dekat dengan pemerintahan dibatalkan, dan pengangkatan hakim agung yang tertunda menimbulkan kecurigaan akan intervensi politik. Meski demikian, Anwar membantah telah mencampuri proses peradilan.

Baca Juga : Putusan MK Soal Pemilu Dua Tahap, MPR: Momentum Evaluasi Sistem Demokrasi dan Reformasi Konstitusi

Aksi protes kali ini semakin mencuri perhatian publik setelah mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, turut hadir dan menyampaikan orasi keras.

Di usia 100 tahun, Mahathir menuduh Anwar menyalahgunakan kekuasaan untuk melemahkan oposisi.

“Mereka yang tidak bersalah didakwa, sementara pelaku pelanggaran justru dibiarkan,” kata Mahathir dalam pidatonya.

Mahathir dan Anwar memiliki sejarah panjang dalam perpolitikan Malaysia. Keduanya sempat bersatu menggulingkan Najib Razak pada Pemilu 2018, namun kembali berseteru setelah koalisi pecah. Kini, Mahathir kembali menjadi simbol perlawanan terhadap Anwar.

Baca Juga : IJTI Kalbar Kolaborasi Bersama Komisi Informasi dalam Penguatan Kampanye Keterbukaan Informasi Publik

Demonstrasi ini menjadi salah satu yang terbesar sejak Anwar menjabat sebagai Perdana Menteri pada November 2022. Situasi ini mencerminkan meningkatnya tekanan politik dan ekonomi yang dihadapi pemerintah Malaysia saat ini. ***