Tekno  

Teknologi AI Tidak Akan Pernah Gantikan Pemikiran Manusia dalam Berkarya

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI)

BERKABAR.CO.ID – Musisi sekaligus Staf Khusus Presiden untuk Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto menegaskan, bahwa meski kecerdasan buatan (AI) makin canggih, ia tidak akan pernah mampu menggantikan kedalaman perasaan dan pemikiran manusia dalam berkarya.

Dalam perhelatan Telkomsel NextDev Summit ke-10 yang digelar di Jakarta pada Kamis 8 Mei 2025, Yovie menyoroti pentingnya menjaga otentisitas dalam proses kreatif, sekaligus membuka diri terhadap kolaborasi dengan teknologi.

Menurutnya, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu yang memperkuat kreasi manusia, bukan mengambil alih perannya.

“AI bisa sangat membantu, tapi bukan berarti menggantikan. Justru kombinasi antara sentuhan manusia dan teknologi bisa menghasilkan karya yang luar biasa,” ujarnya dihadapan para pelaku industri kreatif.

Yovie yang telah berkiprah di dunia musik selama hampir 40 tahun, mengisahkan transformasi industri dari era rekaman analog menggunakan kaset hingga ke era digital saat ini.

Meski teknologi terus berkembang, menurutnya, nilai-nilai dasar dalam berkarya tetap berakar pada kejujuran, idealisme dan empati manusia.

Namun demikian, Yovie mengingatkan pentingnya penguatan regulasi dalam menghadapi gelombang penggunaan AI di bidang kreatif. Ia menekankan perlunya perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual, agar pencipta asli tetap memiliki kendali dan manfaat ekonomi atas karyanya.

“Saya kira perlu ada sistem yang bisa melacak dan mencatat jejak penciptaan sebuah karya, agar hak-hak para kreator tetap terlindungi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yovie mengapresiasi langkah Korea Selatan yang mengambil sikap tegas terkait hak cipta karya berbasis AI.

Ia menyebut kebijakan Organisasi Musik Korea (OMCA) yang tidak memberikan hak cipta pada karya yang dihasilkan AI sebagai bentuk penghormatan terhadap kreativitas manusia.

“Kebijakan seperti itu menunjukkan bahwa negara benar-benar menghargai karya manusia, bukan hanya produk algoritma,” katanya.

Yovie pun mengajak seluruh pihak untuk mendorong kolaborasi lintas negara dalam membangun kerangka hukum yang adil dan berpihak pada para pencipta.

Dengan demikian, kehadiran AI dalam industri kreatif bisa menjadi katalisator kemajuan, bukan ancaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam berkarya. ***