Batal Demo! Pekerja Pariwisata Jabar Tolak Larangan Study Tour, Gubernur Dedi Mulyadi Angkat Bicara

Gedung Sate

BERKABAR.CO.ID – Aksi unjuk rasa susulan terkait penolakan larangan study tour sekolah di Jawa Barat akhirnya batal digelar.

Keputusan tersebut diambil oleh Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat (SP3JB) yang sebelumnya merencanakan aksi di Gedung Sate dan Gedung DPRD Jabar, Senin 25 Agustus 2025.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan apresiasi atas pembatalan rencana aksi tersebut.

Ia menilai langkah SP3JB membuka ruang dialog lebih lanjut demi kebaikan sektor pariwisata tanpa harus melibatkan anak sekolah sebagai objek utama.

“Saya mendapat informasi bahwa rencana aksi unjuk rasa… dibatalkan. Semoga kawan-kawan SP3JB sehat dan bisa menemukan jalan terbaik untuk peningkatan industri pariwisata Jawa Barat, tanpa melibatkan anak-anak sekolah sebagai obyek kepariwisataan,” kata Dedi.

Baca Juga : Polda Kalbar Tegaskan Penetapan Tersangka Kasus Kekerasan Seksual Anak Berdasarkan Bukti Ilmiah

Kebijakan larangan study tour yang tertuang dalam SE Gubernur Jabar Nomor 45/PK.03.03/KESRA menuai protes keras dari pelaku pariwisata.

Mulai dari pengusaha travel, sopir bus, hingga pelaku UMKM menilai kebijakan itu mematikan usaha mereka yang sangat bergantung pada kegiatan wisata sekolah.

Koordinator SP3JB, Herdis Subarja, menegaskan tuntutan mereka sederhana: meminta gubernur mencabut larangan tersebut.

“Tuntutan kita itu hanya satu, cabut larangan gubernur kegiatan study tour sekolah dari Jabar ke luar Jabar,” ucapnya.

Meski mendapat penolakan, Dedi Mulyadi tetap bersikeras tidak akan mencabut larangan study tour.

Baca Juga : Kabut Asap Mulai Terasa, Warga Pontianak Diminta Waspada ISPA

Menurutnya, kebijakan ini dikeluarkan demi melindungi orang tua dari beban finansial yang kerap muncul dalam kegiatan tersebut.

“Saya tidak akan pernah berubah, study tour tetap dilarang di seluruh Jawa Barat,” tegasnya.

Dedi berharap pelaku wisata bisa menemukan terobosan baru dalam mengembangkan pariwisata tanpa harus mengandalkan pola lama. Ia menekankan pentingnya inovasi dan pengelolaan sumber daya secara lebih baik.

Lebih jauh, Dedi mengungkap rencananya membenahi manajemen sektor pariwisata di Jabar. Mulai dari perbaikan infrastruktur, akses transportasi, hingga masalah klasik seperti parkir liar, tiket ganda, hingga harga makanan yang mencekik di destinasi wisata.

Baca Juga : Nyaris Satu Tahun, Kakek Terduga Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Balita di Pontianak Tak Ditahan Polisi

“Wisata kita harus ramah, tidak boleh ada parkir liar mahal, tiket dobel, atau harga makanan yang digetok. Kalau ini bisa dibenahi, kunjungan wisatawan pasti meningkat,” ujarnya.

Dengan langkah tersebut, Dedi optimistis pariwisata Jabar bisa berkembang tanpa harus melibatkan siswa sekolah sebagai obyek utama kegiatan wisata. ***