BERKABAR.CO.ID – Perencanaan tata ruang yang tidak memperhitungkan risiko bencana dinilai sebagai hambatan serius dalam upaya mitigasi bencana, khususnya di kawasan perkotaan Indonesia.
Hal ini disampaikan oleh pakar kebencanaan, Adi Maulana, yang menyoroti lemahnya integrasi unsur kebencanaan dalam proses perencanaan kota.
“Urbanisasi yang cepat dan rendahnya kesadaran masyarakat memang menjadi tantangan. Tapi yang paling mendasar adalah bagaimana kota dirancang sejak awal—apakah sudah mengantisipasi risiko bencana atau belum,” ungkap Adi.
Adi menjelaskan bahwa banyak kota besar di Indonesia berkembang tanpa mempertimbangkan kerentanan terhadap bencana seperti banjir, gempa bumi, dan tanah longsor. Akibatnya, ketika bencana terjadi, dampaknya menjadi lebih besar dan sulit ditanggulangi.
Baca Juga : BNPB Mencatat Wilayah Indonesia Didominasi Bencana Hidrometeorologi Basah
Edukasi Kebencanaan Harus Ditanamkan Sejak Dini
Lebih lanjut, Adi menekankan pentingnya edukasi kebencanaan sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kesadaran publik.
Edukasi ini menurutnya harus dilakukan secara menyeluruh, baik melalui jalur formal seperti kurikulum sekolah, maupun informal di tingkat komunitas.
“Pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, bisa mulai dengan memperkenalkan manajemen bencana sejak dini. Misalnya melalui kurikulum di sekolah,” jelasnya.
Adi mengusulkan agar pendidikan kebencanaan diterapkan sejak SD hingga SMA, agar anak-anak dan remaja memahami bahwa mereka tinggal di wilayah rawan bencana.
Baca Juga : Ketahui Fenomena Aphelion yang Terjadi Juli 2025
Menurutnya, edukasi yang dilakukan secara konsisten akan membentuk kesadaran otomatis dalam diri masyarakat. Hal ini akan sangat membantu dalam menghadapi situasi darurat, karena masyarakat sudah tahu langkah yang harus diambil.
“Kalau kesadaran itu tertanam sejak kecil, maka respon terhadap bencana bisa lebih cepat dan tepat,” tambahnya.
Mitigasi Bencana Harus Dimulai dari Perencanaan
Adi menegaskan bahwa mitigasi bencana bukan sekadar reaksi saat bencana terjadi, melainkan proses mengurangi risiko sejak jauh hari melalui perencanaan tata ruang yang matang dan edukasi yang berkelanjutan.
Baca Juga : Operasi Modifikasi Cuaca Mulai Dilakukan di Wilayah Kalbar
“Jangan menunggu bencana datang baru bertindak. Mitigasi harus dimulai dari perencanaan yang mengedepankan keselamatan,” pungkasnya. ***












