BERKABAR.CO.ID – Warga Dusun Sumber Priangan, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sempat digegerkan dengan kemunculan seekor satwa liar yang masuk ke pekarangan rumah.
Awalnya dikira hanya monyet biasa, namun setelah diamati lebih dekat, ternyata satwa tersebut adalah orangutan.
“Awalnya kami kira hanya monyet biasa, tapi setelah dilihat lebih dekat ternyata orangutan. Kami takut, tapi juga kasihan. Mungkin dia tersesat atau habitatnya terganggu,” ujar salah seorang warga setempat.
Orangutan tersebut diakui tampak beberapa kali berkeliaran di sekitar kebun, memakan buah-buahan seperti jambu, kelapa, hingga nanas.
Kemunculan yang berulang ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga, mengingat potensi konflik yang bisa terjadi antara satwa dan manusia.
Baca Juga : Orangutan Jantan Dewasa Ditranslokasikan ke Hutan Lindung Gunung Tarak
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ketapang Selatan segera melakukan respons cepat.
Setelah pemantauan oleh tim Orangutan Protection Unit (OPU), diketahui bahwa kawasan tersebut mengalami kerusakan habitat serius akibat alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan.
Lokasinya yang berdekatan dengan jalan utama Ketapang–Pontianak semakin memperbesar risiko bagi orangutan.
Untuk menghindari potensi konflik dan menjamin keselamatan satwa, translokasi pun dipilih sebagai solusi. Tim gabungan bergerak sejak pukul 04.30 WIB untuk mengevakuasi orangutan.
Baca Juga : Damkar Beberkan Penyebab Kebakaran Hutan Israel
Proses ini dilakukan dengan hati-hati menggunakan senjata bius, yang hanya boleh digunakan oleh petugas berlisensi dan terlatih.
Setelah tertidur di atas jaring pengaman, orangutan diperiksa tim medis YIARI. Hasilnya, berat orangutan mencapai sekitar kh dan ditemukan luka lama di punggung tangan kiri serta beberapa gigi rusak diduga faktor usia. Meski demikian, kondisinya cukup stabil untuk dilepasliarkan.
Lokasi pelepasliaran ditentukan di kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak. Selain hasil survei menunjukkan tempat ini cocok sebagai habitat baru, lokasi ini juga jauh dari permukiman dan kaya akan vegetasi alami yang penting bagi keberlangsungan hidup orangutan.
Dengan dukungan masyarakat, tim membawa orangutan menembus hutan hingga ke titik pelepasan. Saat kandang dibuka, orangutan itu sempat menoleh sebelum dengan cepat bergerak ke dalam hutan, memanjat pohon, dan menunjukkan perilaku liarnya yang alami.
Baca Juga : Hegemoni Sawit Kian Menguat, Ketahanan Pangan Kalbar Terancam?
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dalam pelestarian satwa liar.
“Kami mengapresiasi keterlibatan aktif masyarakat yang membantu proses pelepasan hingga ke dalam kawasan hutan. Ini adalah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi pelestarian hutan dan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala KPH Ketapang Selatan, Kuswadi, yang berterima kasih atas dukungan warga dan mengajak masyarakat terus menjaga kelestarian hutan.
Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, juga menekankan pentingnya menjaga habitat satwa.
Baca Juga : Tanjak Asal Pontianak Laris Manis di Pasar Internasional
“Kami mengajak semua pihak untuk terus menjaga habitat alami agar tidak ada lagi satwa yang kehilangan tempat hidupnya,” tegasnya. *** NAD












