BERKABAR.CO.ID – Fasilitas penyimpanan beku (cold storage) di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, menampung berbagai hasil tangkapan laut, terutama sotong dan sejumlah jenis ikan yang siap memasok pasar domestik maupun ekspor.
Pengelola memperkirakan kapasitas ekspor mandiri melalui fasilitas itu mencapai 100 hingga 200 ton per tahun. Sementara itu, permintaan pasar domestik dan luar daerah nyaris menyentuh angka 300 ton per tahun.
Menanggapi hal tersebut Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan yang tengah melakukan kunjungan kerja ke kampung Nelayan Sungai Soga meninjau lokasi tersebut pada Sabtu 31 Oktober 2026.
Ia mengaku akan terus menggali potensi kelautan dan perikanan pesisir Bengkayang. Khususnya komoditas sotong (Sepia spp.) dan ikan yang berpeluang menembus pasar internasional.
Saat ini, perusahaan masih menyelesaikan persyaratan ekspor mandiri. Termasuk mengurus Sertifikat HACCP dan nomor registrasi Unit Pengolahan Ikan (UPI) untuk memenuhi ketentuan ekspor ke Vietnam. Selama ini, perusahaan masih mengirim produk perikanannya melalui perusahaan eksportir lain yang sudah lengkap persyaratan dan legalitas ekspornya.
“Ini menunjukkan bahwa potensi perikanan kita cukup besar. Kapasitas ekspornya bisa mencapai 100 sampai 200 ton per tahun, sedangkan permintaan pasar domestik dan luar daerah hampir 300 ton per tahun. Ini merupakan peluang ekonomi yang harus terus kita kembangkan,” kata Ria Norsan.
Baca juga: Sinergi Pusat dan Daerah: Optimalkan Hilirisasi Bauksit Lewat Ekspor Alumina Kalbar
Setelah persyaratan terpenuhi, Norsan berharap perusahaan dapat mengekspor secara mandiri sehingga produk perikanan berangkat langsung melalui Terminal Kijing tanpa transit Jakarta. Ia juga mengaku siap membantu sisi regulasi dan koordinasi dengan instansi terkait agar proses ini dapat berjalan dengan baik.
Pemanfaatan Terminal Kijing sebagai jalur ekspor langsung akan meningkatkan efisiensi distribusi dan daya saing produk perikanan lokal. Aktivitas ekspor itu juga berpotensi menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kalbar melalui tumbuhnya usaha pendukung di daerah. Ia pun mendorong pengelolaan potensi kelautan secara optimal, dengan dukungan kemudahan perizinan, infrastruktur penyimpanan, dan akses distribusi yang makin terbuka ke pasar internasional.
Selain urusan ekspor, Ria Norsan juga menekankan pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan bagi nelayan dan pekerja sektor perikanan. Ia menilai pekerjaan di laut membawa risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Norsan meminta BPJS Ketenagakerjaan memperbanyak sosialisasi langsung kepada nelayan mengenai kepesertaan program. Hal ini termasuk manfaat perlindungan kecelakaan kerja dan santunan bagi ahli waris.
“Saya minta BPJS Ketenagakerjaan dapat melakukan sosialisasi kepada para nelayan dan pekerja sektor perikanan. Agar mereka memahami pentingnya perlindungan jaminan sosial. Pekerjaan di laut memiliki risiko yang cukup tinggi. Jika terjadi kecelakaan kerja atau hal yang tidak diinginkan. Setidaknya keluarga atau ahli waris mendapatkan perlindungan melalui manfaat jaminan sosial,” tegasnya.
Menanggapi arahan itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Pontianak Suhuri Aly menyatakan kesiapan menindaklanjuti arahan Gubernur melalui sosialisasi langsung kepada nelayan dan pekerja sektor perikanan. Ia menilai langkah tersebut akan meningkatkan pemahaman serta kepesertaan pekerja perikanan dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan.
Pemprov Kalbar berharap pengembangan cold storage, penguatan persyaratan ekspor, pemanfaatan Terminal Kijing, serta perlindungan sosial nelayan dapat menggerakkan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Bengkayang.***












