BERKABAR.CO.ID – Dalam upaya mengembalikan fungsi drainase kawasan Parit Tokaya secara optimal. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak mulai melakukan pembersihan, normalisasi, evaluasi jembatan penghambat, hingga penertiban sempadan parit.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan komitmen Pemkot Pontianak untuk menjaga fungsi seluruh parit di kota. Edi menyoroti Parit Tokaya karena statusnya sebagai parit primer yang memiliki cakupan aliran (catchment area) sangat luas.
“Ada beberapa jembatan yang akan kita bongkar. Jadi nanti kalau hujan tidak ada hambatan, air dan alat amfibi kita bisa melakukan perawatan secara rutin,” ujar Edi saat meninjau proses penataan pada Jumat 7 Agustus 2026.
Selain itu, Pemkot Pontianak juga menata ulang beberapa jembatan lain yang berada di atas parit tersebut. Edi mengajak masyarakat ikut menjaga Parit Tokaya dari sampah, mengingat sampah menjadi penyebab utama parit tidak berfungsi maksimal. Oleh karena itu, Pemkot Pontianak menambah jumlah tempat sampah dan memperkuat penataan kawasan sepanjang parit.
“Kami berharap warga Kota Pontianak sama-sama menjaga kota ini dari tidak berfungsinya parit karena sampah,” ujarnya.
Edi menambahkan, pihaknya akan meninjau ulang garis sempadan parit dan menertibkan bangunan di sepanjang kawasan tersebut hingga ke Sungai Kapuas. Ia menilai penataan sempadan sangat penting agar parit memiliki ruang cukup untuk mengalirkan air dan memfasilitasi perawatan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pontianak Firayanta menjadikan Parit Tokaya sebagai fokus penanganan dalam satu hingga dua tahun ke depan. Dinas PUPR akan membersihkan, menormalisasi, serta mengevaluasi jembatan-jembatan yang berpotensi menghambat aliran air. Dalam beberapa hari terakhir, pihaknya akan menangani kawasan Parit Tokaya dan membongkar beberapa hambatan agar ekskavator amfibi dapat beroperasi secara maksimal.
“Ke depan nanti kita siapkan tempat untuk alat kita bisa mudah turun-naik dan beroperasi. Sehingga tidak terhambat oleh jembatan-jembatan yang sebelumnya sudah terbangun,” jelasnya.
Firayanta menambahkan, pihaknya akan meninjau kembali garis sempadan sungai (GSS) di kawasan Parit Tokaya. Setelah menetapkan batas sempadan, pihaknya akan menyosialisasikan aturan tersebut kepada masyarakat sekitar.
“Kalau GSS-nya dua meter, berarti batas terakhir bangunan yang boleh diizinkan berada di jarak dua meter. Itu harus bebas bangunan,” katanya.
Firayanta menjelaskan, penerapan GSS memastikan ketersediaan ruang perawatan parit. Pemkot memanfaatkan area sempadan sebagai jalan inspeksi. Jalur pemeliharaan, ruang penghijauan, tempat sampah, serta elemen penataan lain yang tidak mengganggu fungsi parit. Ia berharap penataan Parit Tokaya mengubah cara pandang masyarakat.
Dengan ini, Pemkot ingin masyarakat tidak lagi memandang parit sebagai bagian belakang permukiman. Melainkan sebagai bagian depan lingkungan yang bersih, terawat, dan nyaman.
“Kita berharap ini bisa menjadi bagian muka dari rumah masyarakat di sekitar sini. Kalau paritnya terawat dan airnya bersih, ini bisa menjadi ikon dan masyarakat senang berada di pinggir parit,” ungkapnya.
Firayanta juga mengajak masyarakat mendukung program penataan ini dengan tidak membuang sampah ke parit. Tetap menjaga kebersihan lingkungan, serta bergotong royong membersihkan rumput dan sampah kecil di sekitar area tersebut. (wan)












