BERKABAR.CO.ID – Kasus campak pada anak di Kalimantan Barat melonjak dalam dua bulan terakhir. Data RSUD Soedarso Pontianak mencatat 37 pasien campak dirawat sepanjang Agustus 2025, dan hingga awal September sudah ada empat kasus baru.
Dokter Spesialis Anak RSUD Soedarso, dr. Budi Nugroho, menegaskan bahwa mayoritas pasien tidak memiliki riwayat imunisasi campak lengkap.
“Sekitar 90 persen pasien yang terkena campak belum pernah diimunisasi. Ada juga yang sudah imunisasi, tapi tidak tuntas,” jelasnya, Rabu (3/9/2025).
Baca juga: Kemenkes Perluas Vaksinasi Hepatitis B untuk Tenaga Kesehatan, Lebih dari 11 Ribu Nakes Reaktif
Menurut dr. Budi, jadwal imunisasi campak harus dilakukan tiga kali, pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 6 tahun. Namun, banyak orang tua hanya melaksanakan imunisasi pertama, sementara dosis lanjutan terlewat. Kondisi ini membuat anak tetap rentan terserang campak.
“Kalau imunisasi tidak lengkap, perlindungan tidak optimal. Ada pasien yang sudah imunisasi sekali di usia 9 bulan, tapi tidak mendapat dosis lanjutan, akhirnya ketika umur 2–3 tahun tetap terjangkit campak,” ungkapnya.
Baca juga: Mengenal Vitamin U, Senyawa dari Kubis yang Bermanfaat untuk Pencernaan dan Kesehatan Organ
Selain itu, sebagian kecil kasus juga terjadi pada bayi yang belum cukup usia untuk imunisasi. Namun, jumlahnya tidak signifikan dibanding pasien tanpa imunisasi lengkap.
Dr. Budi mengingatkan bahwa imunisasi lengkap adalah langkah paling efektif mencegah campak. Pasalnya, meski campak bisa sembuh sendiri dalam dua minggu, komplikasi yang menyertainya dapat berbahaya, mulai dari pneumonia, diare berat, hingga radang otak.
“Campak itu penyakit yang bisa dicegah. Orang tua harus sadar, imunisasi bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan untuk melindungi anak dari risiko penyakit menular,” tegasnya. (Reh)












