Koalisi Aktivis Kalbar Minta Kapolri Dicopot dan Amandemen UU Polri

Direktur Link Ar Borneo, Ahmad saat membacakan pernyataan sikap Koalisi Aktivis Kalimantan Barat untuk Tegaknya Demokrasi (AKBAR-DEMO) di Rumah Gesit Gemawan Kota Pontianak, Selasa 2 September 2025

BERKABAR.CO.ID – Koalisi Aktivis Kalimantan Barat untuk Tegaknya Demokrasi (AKBAR-DEMO) menggelar Konferensi Pers di Rumah Gesit Gemawan Kota Pontianak, Selasa 2 September 2025.

Akbar Demo menyerukan penegakkan Supremasi Sipil, Tuntaskan Agenda Reformasi, Cegah Kondisi Darurat Militer.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan Direktur Link Ar Borneo, Ahmad Syukri, mereka menilai selama Dua puluh tujuh tahun pasca-Reformasi 1998, cita-cita menghadirkan pemerintahan yang demokratis, bersih, dan berpihak pada rakyat justru makin menjauh.

“Sepuluh tahun rezim Joko Widodo menorehkan kerusakan serius. Polri dan TNI diperalat sebagai instrumen kekuasaan, demokrasi dikerdilkan, Mahkamah Konstitusi dipermainkan demi meloloskan Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres 2024,” ucapnya.

Baca Juga : Prabowo Hadiahi Polisi Korban Ricuh Demo dengan Kenaikan Pangkat dan Penghargaan Khusus

Alih-alih berubah, era Presiden Prabowo Subianto justru melanjutkan pola yang sama. Rakyat dihimpit krisis ekonomi, sementara elite berpesta dalam lingkaran kemewahan. KKN, ketidakadilan agraria, dan pelanggaran HAM makin merajalela.

DPR sibuk menambah tunjangan, Polri dan TNI tampil represif, kepemimpinan nasional tunduk pada oligarki dan gagal menghadirkan solusi atas krisis pekerjaan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.

Kalimantan Barat menjadi cermin telanjang dari masalah itu. Angka stunting tinggi, IPM rendah, sementara kekayaan alam dikuasai segelintir konglomerat. Proyek Strategis Nasional justru merampas hutan, tanah, dan ruang hidup rakyat, meninggalkan kantong-kantong kemiskinan di tengah melimpahnya sumber daya.

Atas dasar kondisi tersebut, mereka menyatakan sikap, pertama, berduka atas jatuhnya sejumlah korban jiwa dalam demonstrasi di berbagai daerah. Setiap nyawa rakyat tak ternilai, dan tragedi ini menjadi peringatan keras bagi aparat: aspirasi rakyat harus dijamin secara aman, humanis, dan bermartabat.

Baca Juga : Polda Metro Jaya Kerahkan 350 Polisi Gelar Patroli Skala Besar Pasca Demo Ricuh

“Karena itu, kami mendukung aksi moral mahasiswa dan rakyat di seluruh Indonesia, termasuk Pontianak, sebagai suara sah demokrasi. Aparat wajib bersikap humanis-dialogis, bukan represif, sebab mahasiswa, masyarakat, dan aparat adalah anak bangsa yang sepatutnya saling merangkul, bukan memukul,” ungkap Ahmad Syukri.

Kedua, menuntut reformasi total kepemimpinan nasional dan daerah, khususnya Kalimantan Barat, agar bersih dari KKN dan politik transaksional.

Demokrasi harus diselamatkan dengan langkah serius memberantas korupsi: perkuat KPK, Kejaksaan, dan pengawasan publik; tuntaskan kasus-kasus mandek agar tidak menjadi ajang pemerasan aparat; serta segera sahkan RUU Perampasan Aset.

“Republik ini bukan milik segelintir keluarga penguasa dan dinasti politik, melainkan amanat rakyat,” tegasnya.

Baca Juga : Ketua DPRD Kalbar Siap Temui Massa Demo, Janji Tindaklanjuti Aspirasi Mahasiswa

Ketiga, mendesak Presiden Prabowo Subianto segera melakukan reshuffle kabinet dengan mencopot menteri dan wakil menteri yang tidak kapabel. Mereka harus diganti oleh sosok profesional, berintegritas, dan bebas dari praktik KKN. Rangkap jabatan menteri sebagai komisaris BUMN adalah konflik kepentingan yang harus segera dibatalkan!

Keempat, mengecam DPR RI yang sibuk menambah tunjangan, sementara rakyat menderita. Pulihkan empati, jalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran untuk rakyat-batalkan tunjangan dan fasilitas ekstra! Segera revisi UU tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) agar kerja, anggaran, dan fasilitasnya transparan!

Kelima, menuntut penguatan lembaga yudikatif: hakim profesional, independen, dan akuntabel! Transparansi putusan, pengawasan Komisi Yudisial, serta partisipasi publik harus ditegakkan.

Keenam, reformasi total Polri adalah harga mati! Hentikan kekerasan dan represifitas terhadap aksi mahasiswa, bebaskan mahasiswa dan aktivis pendamping hukum yang ditahan, serta hentikan penyerangan terhadap kampus. Copot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sekarang juga!

Baca Juga : Jakarta Siaga! Pemprov DKI Instruksikan WFH Akibat Demo Besar-Besaran dan Aksi Rusuh

Lakukan amandemen UU Polri untuk memperkuat pengawasan independen, memberi kewenangan nyata pada Kompolnas, dan memaksa DPR menjalankan fungsi kontrol. Hentikan keterlibatan aparat dalam kejahatan! Kembalikan Polri sebagai penegak hukum profesional yang tunduk pada supremasi sipil dan bertanggung jawab kepada rakyat.

Ketujuh, mendesak DPR dan DPD asal Kalimantan Barat: Laksanakan pertanggungjawaban konstituen secara nyata melalui reses yang transparan, inklusif, dan berkualitas serta public hearing yang terbuka.

Fokuskan agenda pada pembangunan manusia: menurunkan stunting, meningkatkan IPM, memperluas akses pendidikan dan kesehatan, membuka lapangan kerja layak, serta berpihak pada UMKM, masyarakat adat, petani, nelayan, buruh, miskin kota, perempuan, anak muda, dan penyandang disabilitas demi tercapainya keadilan sosial-ekologis.

Kedelapan, menuntut DPR, DPD, dan MPR asal Kalimantan Barat: Perjuangkan tata kelola sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan, segera mendorong pengesahan RUU Masyarakat Adat! Hentikan eksploitasi tambang dan sawit yang merusak hutan serta ruang hidup rakyat.

Baca Juga : Aksi Hari Ketiga di Pontianak, Polisi Amankan Belasan Demonstran, Beberapa Masih di Bawah Umur

Kembalikan pengelolaan SDA untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Kalbar. Pastikan infrastruktur dasar-pangan, air bersih, energi, sanitasi, dan pengelolaan sampah-hadir hingga pulau kecil, pedalaman, dan perbatasan. Wakil Kalbar harus berani melawan kebijakan pusat yang merugikan daerah dan berdiri tegak sebagai pembela rakyatnya!

Kesembilan, penjarahan dalam serangkaian aksi bukan sekadar kriminalitas-ini alarm darurat sosial-ekonomi! Negara wajib menanggapi keresahan rakyat dengan kebijakan keadilan sosial-ekologis, bukan kekerasan.

Di Kalimantan Barat, dengan sejarah dan trauma masa lalu, potensi konflik horizontal harus dicegah sejak dini melalui dialog terbuka dan penguatan jaring pengaman sosial. Jangan biarkan ketidakadilan memicu gelombang amarah rakyat yang lebih besar!

Kesepuluh, mengajak seluruh elemen masyarakat sipil di Kalimantan Barat-mahasiswa, pemuda, akademisi, tokoh agama dan budaya, media, LSM, hingga organisasi rakyat-untuk bersatu melawan ketidakadilan, menolak arogansi elit, dan menjaga ruang demokrasi tetap hidup.

Baca Juga : Jurnalisme Positif Jadi Kunci Menjaga Demokrasi di Era Disrupsi Media

Mereka percaya, Indonesia hanya akan maju bila demokrasi ditegakkan, keadilan sosial diwujudkan, dan kesejahteraan rakyat diprioritaskan.

“Demi Indonesia-dan Kalimantan Barat khususnya yang adil, lestari, dan bermartabat. Inilah jalan menuntaskan amanat Reformasi 1998, menegakkan supremasi sipil, dan mencegah negeri ini jatuh ke jurang darurat militer,” pungkasnya. *** ZUL