BERKABAR.CO.ID – Setelah berbulan-bulan dihantui ketidakpastian akibat tarif tinggi, industri otomotif Jepang akhirnya bisa sedikit bernapas lega.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menurunkan tarif mobil asal Jepang menjadi 15 persen, kebijakan yang mulai berlaku pada Selasa waktu setempat 16 September 2025.
Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Departemen Perdagangan AS, hanya sehari setelah penerbitan perintah eksekutif yang diteken Trump.
Langkah tersebut menjadi bagian dari kesepakatan dagang antara AS dan Jepang yang dicapai pada 22 Juli lalu.
Tarif mobil Jepang di AS semula hanya 2,5 persen, angka yang relatif ringan bagi produsen besar seperti Toyota, Honda, dan Nissan. Namun pada April lalu, Trump memberlakukan tambahan tarif hingga melonjak menjadi 27,5 persen dengan dalih alasan keamanan nasional.
Baca Juga : Loco Carwash Hadirkan Konsep Unik, Cuci Kendaraan Sambil Ngopi Santai
Kenaikan tersebut menghantam margin keuntungan produsen Jepang dan membuat biaya distribusi mobil ke AS membengkak. Tidak sedikit manufaktur yang sempat memangkas target penjualan dan mempertimbangkan relokasi produksi.
Kini, setelah hampir lima bulan diberlakukan, tarif itu dipangkas menjadi 15 persen. Meski lebih rendah dari puncak sebelumnya, angka ini tetap jauh lebih tinggi dibandingkan tarif awal 2,5 persen. Industri otomotif Jepang pun masih menilai kebijakan tersebut sebagai kompromi mahal.
Dalam kesepakatan dagang yang disepakati kedua negara, Jepang berkomitmen untuk:
- Meningkatkan investasi besar-besaran di Amerika Serikat.
- Memperbesar impor produk pertanian dari AS, yang selama ini menjadi salah satu prioritas perdagangan Trump.
Dengan demikian, penurunan tarif dianggap sebagai “imbal balik” atas langkah Jepang membuka lebih banyak pasar bagi produk-produk pertanian Amerika, sekaligus menjamin kelanjutan hubungan dagang yang strategis.
Baca Juga : Merdeka! Naik MRT, LRT, dan KRL Cuma Rp80 di HUT RI ke-80
Selain tarif mobil, kesepakatan juga memangkas bea masuk atas sejumlah komponen utama mobil asal Jepang, termasuk mesin dan transmisi, dari 25 persen menjadi 15 persen.
Sementara itu, pesawat sipil dan suku cadang pesawat asal Jepang kini bebas dari tarif tambahan. Panduan resmi dari Departemen Perdagangan AS menyebut hal ini sebagai bagian dari “tarif resiprokal” yang ditawarkan Trump.
Pada 2024, Jepang mengekspor kendaraan senilai sekitar 6 triliun yen atau setara 41 miliar dolar AS (Rp673 triliun) ke Amerika Serikat. Jika digabung dengan ekspor suku cadang mobil, nilainya mencakup sepertiga dari total ekspor Jepang ke AS.
Kebijakan tarif baru ini tentu berdampak besar. Produsen Jepang bisa menyesuaikan strategi harga dan tetap menjaga daya saing di pasar mobil terbesar kedua dunia setelah Tiongkok itu.
AS juga memberlakukan tarif serupa untuk Uni Eropa dan Korea Selatan, yaitu 15 persen. Sementara itu, tarif mobil Inggris diturunkan menjadi 10 persen untuk produksi lebih dari 100.000 unit per tahun.
Baca Juga : Tesla Tidak Tertarik Bangun Pabrik di India
Langkah ini menunjukkan bahwa Washington sedang mengarahkan ulang kebijakan perdagangannya ke sistem tarif negara-per-negara (country-specific tariff), sesuatu yang sangat dipengaruhi gaya agresif Trump dalam menekan mitra dagang.
Trump juga memberlakukan kebijakan “no stacking”, yakni aturan yang mencegah penumpukan tarif tambahan. Artinya, barang impor dari Jepang tidak akan terkena tarif berlapis di atas 15 persen.
Bagi importir Jepang yang sudah membayar kelebihan tarif ganda sejak Agustus, pemerintah AS berjanji akan melakukan pengembalian dana. Langkah ini diharapkan dapat meredakan keresahan pelaku industri yang selama ini terbebani biaya ekstra.
Meski penurunan tarif disambut positif, beban industri otomotif Jepang tetap berat. Angka 15 persen masih enam kali lipat lebih tinggi dibandingkan tarif awal sebelum kebijakan Trump.
Baca Juga : Trump Perpanjang Tenggat Tarif Resiprokal Hingga 1 Agustus 2025, Negara Mitra Diberi Waktu Negosiasi
Banyak analis menyebut, keputusan ini adalah strategi “win-win” ala Trump: di satu sisi memberi keringanan bagi Jepang, di sisi lain tetap menunjukkan ketegasan bahwa AS tidak ragu menekan sekutu untuk membuka lebih banyak pasar bagi produk Amerika. ***












