Dorong Inklusi, Aksi Ceria Hadirkan Harapan Baru bagi Anak Berhadapan dengan Hukum

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak (DP3A) Kalimantan Barat, Herkulana Mekarryani pada Aksi Ceria : Inklusi Menyapa Media digelar di CW Coffee Sepakat Dua, Kota Pontianak, Sabtu 20 Juli 2025 malam

BERKABAR.CO.ID – Menyambut Hari Anak Nasional, Aksi Ceria : Inklusi Menyapa Media digelar di CW Coffee Sepakat Dua, Kota Pontianak, Sabtu 20 Juli 2025 malam.

Acara ini menghadirkan  ruang diskusi terbuka yang berfokus pada isu anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan penampilan akustik dari para ABH sendiri.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak (DP3A) Kalimantan Barat, Herkulana Mekarryani mengatakan kegiatan ini merupakan sosialisasi dan edukasi terkait posisi anak dalam sistem hukum.

Karena menurutnya, mereka juga berhak merasa bahagia dan diterima kembali di tengah masyarakat.

Baca Juga : Seorang Pria di Pontianak Ditemukan Tewas di Dalam Rumah, Diduga Telah Meninggal Empat Hari

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menegaskan ABH tetap punya hak untuk dipulihkan, tumbuh dan berkembang,” ucapnya, Sabtu 19 Juli 2025 malam.

Ia menyebutkan terdapat tiga kategori anak yang berhadapan dengan hukum. Diantaranya, anak sebagai pelaku tindak pidana, anak sebagai korban kekerasan (fisik, seksual, maupun perundungan), dan anak sebagai saksi dalam proses hukum.

Dalam penanganannya, DP3A Kalbar bersinergi dengan berbagai pihak seperti PKBI dan LPKA.

“Kolaborasi ini menciptakan sejumlah program yang mendukung proses reintegrasi anak ke masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam proses pembinaan, dari sisi LPKA, program yang dijalankan dibagi menjadi dua fokus utama, yakni program kepribadian dan kemandirian.

Baca Juga : Rekomendasi Tempat Joging Pagi di Pontianak: Pilihan Terbaik untuk Memulai Hari dengan Sehat

Program kepribadian mencakup pendidikan formal, pembinaan agama, etika, moral, dan kegiatan olahraga.

Sedangkan program kemandirian lebih diarahkan pada pelatihan keterampilan, seperti pelatihan barista bekerja sama dengan CW Coffee.

Sementara itu, DP3A Kalbar juga menggagas Proyek Curhat Anak, yang menghadirkan psikolog ramah anak untuk memberikan ruang bercerita dan pendampingan emosional.

“Kami menyadari anak-anak di dalam sering menyimpan kegelisahan dan kerinduan terhadap keluarga. Karena itu, mereka perlu tempat yang aman untuk menyalurkan perasaan mereka,” ungkapnya.

Kemudian, PKBI menyediakan Rumah Belajar dan WKRI menghadirkan Pojok Literasi sebagai ruang baca dan pengembangan minat baca anak-anak.

Baca Juga : Sekolah Rakyat untuk Anak Miskin Ekstrem Siap Dibuka Agustus 2025 di Pontianak

Dengan pendekatan kolaboratif ini, diharapkan setiap anak mendapatkan perhatian yang utuh, baik secara pendidikan, psikologis, maupun keterampilan hidup.

“Acara ini menjadi cerminan nyata inklusi bukan sekadar slogan, melainkan gerakan bersama untuk memastikan anak-anak yang sedang menjalani proses hukum dapat tumbuh dengan martabat dan harapan baru,” pungkasnya. *** Zul