Bukan Rusia, Kini China Jadi Lawan Berat Amerika di Luar Angkasa

Ilustrasi Pangkalan di Bulan

BERKABAR.CO.ID – Untuk pertama kalinya sejak berakhirnya Perang Dingin, Amerika Serikat kembali menghadapi lawan tangguh dalam perlombaan luar angkasa.

Kali ini, bukan Uni Soviet yang menjadi rival, melainkan China, yang dinilai tengah agresif mendorong ambisi membangun pangkalan di Bulan.

Peringatan ini disampaikan oleh Sean Duffy, Penjabat Administrator NASA, dalam sebuah artikel yang ia tulis untuk Fox News pada Senin 15 September 2025.

“Taruhannya sangat tinggi. China sedang memajukan rencana pembangunan pangkalan di Bulan. Amerika tidak boleh membiarkan Beijing merebut keunggulan militer di luar angkasa. Dampaknya akan luas, bukan hanya untuk keamanan, tetapi juga kepemimpinan global,” tulis Duffy.

Menurut Duffy, kompetisi ini bukan lagi sekadar soal teknologi, tetapi juga geopolitik. Dominasi di luar angkasa bisa memengaruhi peta kekuatan dunia.

Baca Juga : IHSG Meroket! Ditutup Menguat 83 Poin ke 7.937, Pasar Menanti Kejutan

Ia menilai, jika China lebih dulu menguasai teknologi dan pangkalan di Bulan, maka Amerika Serikat berisiko kehilangan posisi sebagai pemimpin global.

“Untuk pertama kalinya sejak Perang Dingin, Amerika menghadapi saingan tangguh di luar angkasa. Kita tidak boleh ragu. Waktunya bertindak adalah sekarang,” tegasnya.

Dalam tulisannya, Duffy juga menyoroti masalah internal NASA. Ia menilai lembaga antariksa Amerika itu harus lebih ramping dan gesit.

“NASA harus lebih ramping, lebih cerdas, dan lebih berfokus pada misi. Birokrasi yang membengkak, inefisiensi dalam pengadaan kontrak, dan budaya kehati-hatian yang berlebihan telah menghambat banyak program,” kata Duffy.

Ia mencontohkan sejumlah proyek besar, seperti Sistem Peluncuran Luar Angkasa (SLS) dan misi Pengambilan Sampel Mars, yang telah menguras sumber daya namun berulang kali mengalami penundaan.

Baca Juga : Heboh! Festival Kampung Meriah Bikin Warga Betah Seharian, Serunya Bikin Lupa Pulang!

Menurut Duffy, era kajian panjang dan studi ulang sudah berakhir. “Jika kita ingin mengalahkan China menuju Bulan, kita tidak bisa hanya duduk di belakang meja. Amerika tidak lagi punya kemewahan untuk membuang waktu. Jika teknologinya siap, luncurkan,” ujarnya tegas.

Selain reformasi internal, Duffy juga menekankan pentingnya NASA memberi ruang lebih besar bagi sektor komersial.

Menurutnya, perusahaan swasta seperti SpaceX dan Blue Origin sudah membuktikan kapasitas dalam mendukung eksplorasi luar angkasa dengan biaya lebih efisien.

“NASA tidak boleh mengabaikan sektor luar angkasa komersial. Kolaborasi dengan pihak swasta bisa mempercepat langkah Amerika dalam menjaga keunggulannya,” jelasnya.

Pekan lalu, Duffy juga menyatakan bahwa Amerika akan melakukan segala cara untuk memastikan program Pengembalian Sampel Mars bisa diselesaikan lebih cepat daripada negara lain, termasuk China.

Ambisi besar ini sekaligus menunjukkan bahwa kompetisi luar angkasa bukan hanya soal Bulan, tetapi juga planet merah.

Dalam pandangan Duffy, siapa pun yang berhasil menguasai teknologi pengambilan sampel Mars lebih dulu, akan mendapat pengaruh besar dalam menentukan masa depan eksplorasi antariksa.

Pernyataan Duffy menegaskan bahwa Amerika kini berada di persimpangan jalan: tetap terjebak dalam birokrasi panjang yang menghambat inovasi, atau bertransformasi menjadi lebih lincah agar mampu bersaing dengan China.

“Amerika tidak boleh membiarkan China mendikte masa depan luar angkasa. Kita harus bertindak sekarang, atau bersiap kehilangan posisi yang selama ini kita pegang,” pungkasnya. ***