BERKABAR.CO.ID – Aksi seorang pendaki asal Inggris, Stuart Cox (57 tahun), yang menendang tumpukan batu (stone stacks) di jalur wisata Mam Tor, kawasan Peak District, viral dan memicu perdebatan publik.
Video yang diunggahnya ke Facebook pada 20 Mei 2025 telah ditonton lebih dari 1 juta kali, dan menyorot isu penting antara kelestarian alam vs seni alam buatan manusia.
“Lihat ini… Hancurkan semuanya,” ujar Stuart dalam video, sebelum menendang tumpukan batu setinggi hampir dua meter di sepanjang jalur pendakian Great Ridge.
Tumpukan Batu: Seni atau Perusak Lingkungan?
Fenomena tumpukan batu atau rock stacking marak ditemui di jalur pendakian di berbagai belahan dunia.
Baca Juga : Tiga Pelaku Perundungan yang Viral di Diamankan Polres Pontianak
Beberapa pendaki menganggapnya sebagai bentuk ekspresi seni atau simbol pencapaian. Namun, bagi Stuart, tumpukan tersebut justru mengancam ekosistem, merusak habitat, dan merusak struktur bersejarah.
“Banyak batu diambil dari tembok tua peninggalan sejarah. Makhluk kecil seperti katak, serangga, dan kadal kehilangan habitatnya,” jelas Stuart.
Otoritas Taman Nasional Setuju: Rock Stacking Merusak Alam
Peak District National Park Authority menyebut praktik stone stacking telah meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir dan berdampak negatif terhadap lingkungan.
Bahkan, beberapa batu yang digunakan berasal dari situs arkeologi penting, seperti benteng kuno Mam Tor dan tembok Peak Forest yang dibangun sejak 1579.
Baca Juga : Cara Bermain Last War, Survival Game yang Viral dan Menambah Teman
National Trust turut memperingatkan bahwa tumpukan batu bisa menyebabkan erosi tanah, mengganggu jalur pendakian, dan merusak habitat satwa liar.
“Kami telah membongkar beberapa tumpukan, terutama yang berada di situs-situs penting,” ujar juru bicara National Trust.
Respons Publik Terbelah: Pahlawan Lingkungan atau Terlalu Ekstrem?
Setelah videonya viral, Stuart menerima reaksi beragam dari publik. Banyak pendaki yang mendukungnya, menyebut aksinya sebagai bentuk kecintaan terhadap alam, namun tidak sedikit pula yang mengecam, menyebut tindakannya terlalu agresif dan menggurui.
“Ada yang dukung, ada juga yang marah. Bahkan ada yang kirim ancaman lewat DM. Tapi saya nggak terlalu pikirkan,” kata Stuart.
Meski videonya kontroversial, Stuart mengaku misinya adalah untuk mengubah pola pikir pendaki soal pentingnya menjaga lingkungan. Ia bahkan telah menawarkan bantuan kepada pemilik lahan untuk memulihkan tembok batu yang rusak akibat praktik stacking.
Baca Juga : Begini Penjelasan Menteri Maman Abdurahman Terkait Surat Kunjungan Sang Istri ke Eropa
“Saya cinta kawasan ini. Kalau satu atau dua orang sadar dan berhenti bangun tumpukan batu, itu sudah cukup bagi saya,” tegas Stuart.
Menurutnya, menjaga alam bukan selalu tentang bersikap sopan, melainkan tentang berani bertindak demi yang tak bisa bersuara.
Pedoman Resmi: Jangan Sentuh Elemen Alami
Sesuai dengan The Countryside Code, wisatawan dan pendaki diminta tidak memindahkan batu, mengganggu satwa liar, atau merusak elemen alami di kawasan konservasi. Aksi seperti rock stacking dinilai berisiko tinggi terhadap stabilitas ekosistem dan situs sejarah.
Perdebatan antara kebebasan berekspresi di alam terbuka dan kebutuhan menjaga ekosistem semakin relevan di era digital, ketika aksi kecil bisa viral dalam sekejap.
Baca Juga : Curi Kacamata, Pasangan Suami Istri di Jakarta Diciduk Polisi
Aksi Stuart Cox menunjukkan bahwa kadang, menyuarakan alam membutuhkan keberanian—meski menuai kontroversi. ***












