Menteri P2MI Gandeng Alumni Kampus Tangani Migran Ilegal di Perbatasan Kalbar

Menteri P2MI Abdul Kadir Karding saat menggandeng alumni perguruan tinggi untuk bersama menangani maraknya migran ilegal di wilayah perbatasan.

BERKABAR.CO.ID – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding menggandeng alumni perguruan tinggi untuk turut terlibat dalam penanganan migran ilegal.

Khususnya di wilayah perbatasan Kalimantan Barat yang rawan jalur keluar masuk pekerja non prosedural.

Karding mengapresiasi peran Ikatan Alumni Universitas Diponegoro (IKA UNDIP) yang aktif menjalankan program edukasi dan pemberdayaan masyarakat terkait migrasi aman. Ia mengatakan, alumni kampus memiliki potensi besar dalam mengedukasi warga agar tidak terjebak dalam bujuk rayu perekrut ilegal.

“Saya berterima kasih karena alumni UNDIP yang di Kalbar punya potensi luar biasa. Mereka sudah jalan dengan program pemberdayaan, dan itu bagian penting dari edukasi,” katanya.

Baca juga: Menteri P2MI Dorong Siswa SMTI Pontianak Kerja ke Jepang, Tegaskan Jalur Resmi Wajib Ditempuh

Ia menegaskan, keterlibatan alumni kampus bukan hanya menyasar calon pekerja migran, tapi juga masyarakat umum agar memahami pentingnya keberangkatan ke luar negeri secara legal dan terstruktur.

Kalimantan Barat, dengan banyaknya jalur tikus di perbatasan, disebutnya sebagai daerah yang sangat membutuhkan edukasi ini.

“Saya tidak hanya mendukung intervensi pada tenaga migran, tapi IKA UNDIP juga mengedukasi masyarakat agar paham risiko jalur nonprosedural. Kita juga minta mereka membuka pelatihan atau peluang kuliah lagi,”ujarnya.

Baca juga: TPPO di Kalbar Melonjak, Jalur Tikus di Perbatasan Jadi Sumber Masalah

Karding menambahkan, pihaknya tidak hanya mengandalkan alumni dari UNDIP, tetapi juga mendorong keterlibatan semua alumni perguruan tinggi di Indonesia untuk ikut serta dalam membangun kesadaran masyarakat dan mendampingi para migran.

“Semua alumni bisa ambil peran. Kita tidak bisa kerja sendiri. Butuh gotong royong agar migrasi aman bukan sekadar slogan, tapi benar-benar terjadi di lapangan,” tutupnya.(Reh)