BERKABAR.CO.ID – Buah langsat merupakan ikon Desa Punggur Kecil, Kabupaten Kubu Raya, dikenal karena rasa manisnya yang khas menjadikannya primadona baik di pasar lokal maupun luar daerah. Punggur Kecil tak hanya menghasilkan langsat berkualitas, tetapi juga potensi besar dalam setiap musim panen.
Di kebun langsat, udara segar dipenuhi buah kuning menjulang yang siap dipetik, sementara suara pemanjat dan kicauan burung menciptakan suasana tenang. Cahaya mentari menyinari kebun, memantulkan kilauan dari langsat yang bergelantungan, menciptakan suasana cerah dan segar di setiap sudutnya.
Suhartian, satu diantara pemilik kebun langsat di desa itu, memiliki kurang lebih 126 pohon di kebunnya, ia mengungkapkan bahwa produksi per pohon rata-rata mencapai 100 kilogram.
“Jadi dengan jumlah 126 pohon, produksi bisa mencapai 12 keranjang per hari atau mencapai 10 hingga 12 ton setiap musimnya,” ujar Suhartian, di Desa Punggur Kecil, Kabupaten Kubu Raya, beberapa waktu lalu.
Setelah dipanen, langsat langsung disalurkan ke berbagai agen di sekitar Punggur Kecil. Ia menjelaskan bahwa mereka telah menjalin kerja sama dengan agen lokal sejak lama.
“Kami biasanya langsung menjual langsat ke agen di sini. Dari sana, buah langsat akan dikirim ke berbagai daerah, bahkan sampai ke beberapa wilayah di Indonesia,” ucapnya.
Ia mengungkapkan tidak mengalami kesulitan dalam mencari pembeli, karena buah langsat Punggur Kecil sudah terkenal dengan rasa manisnya yang khas.
“Langsat Punggur memiliki rasa manis yang khas dari daerah lain, keistimewaan rasa ini diyakini berasal dari kandungan hara tanah yang subur di kawasan ini,” jelasnya.
Meskipun cuaca dapat mempengaruhi hasil panen, Ia telah mengantisipasinya dengan sistem irigasi yang terkelola dengan baik.
“Kami membuka saluran irigasi jika terjadi kelebihan air dan menambahkannya saat kekurangan, untuk mengurangi risiko buah jatuh pada musim hujan dan buah pecah saat musim kemarau,” katanya.
Suhartian mengatakan panen langsat kali ini dimulai pertengahan Desember dan diperkirakan berlangsung hingga Maret, dengan variasi harga.
“Saat panen raya, harga langsat bisa turun hingga Rp3.000 per kilogram, namun harga normal di awal musim dapat mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram,” pungkasnya.
Desa Punggur memiliki potensi besar melalui pohon langsat yang merupakan warisan antar generasi. Suhartian berharap produksi buah khas ini dapat terus meningkat dan menjangkau pasar yang lebih luas, sehingga perekonomian masyarakat berkembang dan Desa Punggur Kecil semakin dikenal. (Sam)












