BERKABAR.CO.ID – Kasus penyakit campak di Kota Pontianak mengalami peningkatan tajam sejak Juni hingga Agustus 2025. Di RSUD Soedarso, tercatat ada sekitar 37 pasien campak yang dirawat sepanjang Agustus. Bahkan, memasuki awal September, sudah ada empat pasien baru yang masuk dengan gejala serupa.
Dokter Spesialis Anak RSUD Soedarso, dr. Budi Nugroho, menyebutkan bahwa lonjakan kasus ini mayoritas menyerang anak-anak berusia 9 bulan hingga 2 tahun. Menurutnya, sebagian besar pasien tidak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap.
“Yang bulan Agustus kemarin, kalau yang dirawat di sini ada sekitar 37 pasien. Itu yang dirawat saja, belum termasuk kasus ringan yang tidak sampai dirawat,” ungkap dr. Budi saat ditemui, Rabu (3/9/2025).
Baca juga: Pemprov Kalbar Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan Kesehatan, Dukung Pemerataan Dokter Spesialis
Karena jumlah pasien terus bertambah, pihak rumah sakit menambah kapasitas ruang isolasi khusus penyakit menular. Semula hanya tersedia empat tempat tidur, kini ditambah menjadi enam.
“Kalau ada anak sakit campak kita isolasi. Tadinya hanya ada empat tempat tidur, tapi karena pasien bertambah, kita buka ruang tambahan lagi,” jelasnya.
Dr. Budi menegaskan, meski campak bisa sembuh sendiri dalam dua minggu, penyakit ini berbahaya bila menimbulkan komplikasi seperti pneumonia, diare berat, dehidrasi, hingga radang otak. Ia kembali mengingatkan pentingnya imunisasi lengkap untuk mencegah risiko tersebut.
“Sekitar 90 persen pasien campak yang masuk belum pernah diimunisasi. Ada juga yang sudah imunisasi tapi tidak lengkap, akhirnya tetap terjangkit. Ini yang harus menjadi perhatian orang tua,” ujarnya.
Baca juga: Kalbar Masuk 10 Besar Nasional Angka Kematian Bayi
Hingga kini, tren peningkatan kasus campak di Pontianak belum menunjukkan tanda-tanda menurun. Dr. Budi mengimbau masyarakat segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala demam, bercak merah pada kulit, batuk, pilek, atau mata merah. (Reh)












