BERKABAR.CO.ID – Ada yang berbeda di peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun ini. Bukan sekadar upacara atau seremonial, tapi juga lahirnya karya inspiratif dari anak muda Kalimantan Barat: film pendek berjudul “Andai Ibu Bisa Terbang”.
Film ini resmi tayang perdana di Aula Garuda, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Sabtu (26/10), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Sosialisasi Program Gerakan Pemuda Sehat Menuju Indonesia Emas (Gema Emas) 2045).
Program ini diinisiasi oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Kalimantan Barat untuk menggerakkan generasi muda agar lebih peduli pada kesehatan fisik dan mental dua aspek penting menuju Indonesia yang tangguh di tahun 2045.
“Andai Ibu Bisa Terbang” bukan sekadar tontonan, tapi cerminan realitas dan emosi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kisahnya mengangkat perjuangan seorang anak muda yang berjuang di tengah tekanan hidup dan impian yang sering kali berbenturan dengan kenyataan.
Di balik kisah personal itu, terselip pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kesehatan mental, mengenali diri sendiri, dan menghargai perjuangan seorang ibu.
Kepala Disporapar Kalbar, Windy Prihastari, yang juga menjadi penanggung jawab produksi film, mengaku bangga dengan semangat tim muda di balik layar.
“Film ini adalah bukti nyata bahwa anak muda Kalimantan Barat memiliki potensi besar di dunia kreatif, khususnya perfilman. Harapannya, film ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi pemuda-pemudi lainnya untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi daerah,” ujar Windy.
Baca juga: Syakira, Calon Puteri Daerah Kalbar Favorit 2025 Siap Jadi Inspirasi Generasi Muda
Ia juga menegaskan bahwa sektor kepemudaan dan kreativitas harus berjalan seiring. “Kita ingin generasi muda Kalbar tidak hanya aktif di dunia digital, tapi juga mampu menyalurkan ide dan energinya dalam karya nyata yang membawa pesan positif,” tambahnya.
Film berdurasi sekitar 20 menit ini digarap oleh tim kreatif muda Kalbar, mulai dari penulis naskah, sutradara, hingga pemeran utamanya. Semua dikerjakan dengan semangat gotong royong, meski dengan keterbatasan anggaran dan fasilitas. Namun hasil akhirnya justru mampu mengaduk emosi penonton.
Banyak yang tak menyangka, karya yang digarap dengan peralatan sederhana ini mampu menyampaikan pesan dengan kuat dan menyentuh. Beberapa penonton bahkan mengaku terharu dan bangga melihat kreativitas anak muda Kalbar tampil di layar besar.
“Filmnya sederhana, tapi pesannya dalem banget. Bikin kita sadar kalau kesehatan mental itu penting, dan perjuangan seorang ibu itu luar biasa,” ungkap Rika, salah satu penonton dari komunitas pemuda Pontianak.
Lewat program Gema Emas 2045, Pemerintah Provinsi Kalbar mendorong generasi muda untuk membangun pola hidup sehat dan produktif. Tak hanya lewat olahraga atau seminar, tapi juga melalui jalur seni dan budaya seperti film, musik, dan karya kreatif lainnya.
Windy berharap langkah ini bisa menjadi gerakan berkelanjutan.
“Kami ingin menjadikan Kalbar sebagai rumah kreatif bagi anak muda yang ingin berkarya dan berkontribusi. Kalau generasinya sehat secara fisik, mental, dan sosial maka mimpi Indonesia Emas bukan hal yang mustahil,” ujarnya.
Penayangan perdana “Andai Ibu Bisa Terbang” bukan hanya momentum, tapi simbol bahwa semangat Sumpah Pemuda masih hidup di hati anak muda Kalimantan Barat. Mereka tidak hanya bersuara lewat kata-kata, tapi melalui karya yang menyentuh dan menggugah.
Film ini menjadi pengingat bahwa setiap generasi punya caranya sendiri untuk berkontribusi. Dan di tangan anak muda Kalbar, Sumpah Pemuda bukan hanya slogan sejarah tapi energi untuk terbang lebih tinggi, menuju masa depan yang sehat, kreatif, dan berdaya. (Mdr).












