BERKABAR.CO.ID – Ketegangan teknologi antara China dan Amerika Serikat kembali memanas. Administrasi Ruang Siber China (Cyberspace Administration of China/CAC) dilaporkan melarang perusahaan teknologi domestik membeli chip kecerdasan buatan (AI) buatan Nvidia, raksasa teknologi asal California, AS.
Mengutip Financial Times via TechCrunch pada Rabu 17 September 2025, larangan ini menyasar perusahaan raksasa seperti ByteDance dan Alibaba.
Keduanya diminta menghentikan uji coba sekaligus pembelian server RTX Pro 6000D, chip AI yang sebelumnya dirancang khusus oleh Nvidia untuk pasar China.
Baca Juga : AMSI Kalbar Periode 2025–2029 Resmi Dilantik,Ria Norsan Tegaskan Pentingnya Media Siber di Era Digital
Larangan ini bukan tanpa alasan. Sejak akhir Agustus 2025, pemerintah China gencar mendorong perusahaan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada chip asing.
Beijing menegaskan arah kebijakan baru harus beralih ke produk buatan dalam negeri demi memperkuat ekosistem teknologi nasional.
Namun, keputusan ini diyakini akan memberi dampak besar pada industri AI China. Pasalnya, meski Huawei dan Alibaba sudah merancang chip AI sendiri, Nvidia masih memegang posisi sebagai pemimpin global dengan teknologi tercanggih di pasar.
CEO Nvidia, Jensen Huang, mengaku kecewa atas keputusan pemerintah China.
Baca Juga : Jaga Stabilitas Sistem Keuangan Nasional, LPS Perkuat Sistem KeamananSiber
“Kami hanya bisa melayani pasar jika suatu negara menginginkan kami. Saya kecewa dengan apa yang terjadi, tetapi saya sadar mereka punya agenda besar yang harus diselesaikan dengan Amerika Serikat,” ujar Huang.
Meski demikian, Huang menegaskan pihaknya tetap bersabar dan akan mendukung perusahaan serta pemerintah China sesuai keinginan mereka.
Kebijakan China ini menjadi babak baru dalam perang teknologi AS–China, khususnya dalam persaingan pengembangan kecerdasan buatan.
Baca Juga : Dittipidsiber Bareskrim Polri Ungkap Peredaran Konten Ponografi Anak Diperjualbelikan
Dengan larangan pembelian chip Nvidia, banyak pihak menilai ekosistem AI global bisa mengalami disrupsi besar, karena Nvidia selama ini menjadi penyedia utama chip AI tercepat di dunia. ***












