BERKABAR.CO.ID – Kawasan Pasar Tengah, salah satu pasar tua di Pontianak, kini kembali bergeliat setelah dijadikan pusat kuliner malam. Beragam makanan dari berbagai daerah dapat dijumpai di kawasan ini, menarik minat warga dan wisatawan.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah kota untuk menghidupkan kembali kawasan bersejarah Pasar Tengah.
“Kami ingin membangkitkan kembali suasana Pasar Tengah yang dulu menjadi salah satu pusat aktivitas warga. Kawasan ini punya nilai sejarah dan karakter khas yang penting untuk dijaga,” ujarnya saat meresmikan pusat kuliner malam, Senin (27/10) kemarin.
Baca juga: Kuliner Khas Malaysia Hadir di Pontianak, Kopi Peng Tawarkan Cita Rasa Sarawak
Konsep kawasan ini memadukan kuliner tradisional dengan nuansa bangunan lama. Pemerintah tetap mempertahankan arsitektur khas Pasar Tengah agar nilai sejarahnya tidak hilang.
“Kami ingin suasananya tetap seperti dulu. Bangunan lama tetap dipertahankan agar karakter kawasan ini terjaga,” tambah Edi.
Beragam menu khas dari berbagai daerah di Nusantara hadir di sini, termasuk makanan lokal Kalimantan Barat.
“Di pembukaan saja sudah ada papeda, makanan khas Palembang, Medan, dan lainnya. Ke depan akan semakin banyak pilihan kuliner,” kata Edi.
Ia juga mengingatkan para pedagang untuk menjaga kualitas, berinovasi, dan tetap mempertahankan cita rasa tradisional.
“Yang penting, kualitas makanan harus dijaga, rasa tradisional tetap dipertahankan, dan keamanan pengunjung diperhatikan,” pesannya.
Kegiatan pasar pagi tetap berlangsung seperti biasa, sementara pusat kuliner malam dibuka pukul 17.00–23.00 WIB. Selain kuliner, kawasan ini juga akan diramaikan pertunjukan musik, seni lukis, dan kegiatan rakyat.
Ketua Pasar Malam Tanjungpura (Pasmata), Bahri, menyebut ada sekitar 35 pedagang yang berpartisipasi pada malam pembukaan. Ia menambahkan, pengelola membantu pedagang pemula agar bisa menyesuaikan diri dengan konsep baru.
“Wilayahnya memang luas, jadi belum terlalu ramai, tapi kami yakin akan terus berkembang,” ujarnya.
Menariknya, pedagang tidak dikenakan biaya sewa lapak. Mereka hanya memberikan kontribusi sukarela untuk mendukung kegiatan operasional dan acara komunitas.
“Semua dana dikelola secara terbuka melalui rapat bulanan,” jelas Bahri.
Ia berharap dukungan pemerintah dan masyarakat dapat menjadikan kawasan Kota Tua Pontianak sebagai destinasi kuliner malam yang nyaman dan mencerminkan keberagaman budaya kota.
“Kami ingin kawasan ini terhubung hingga ke Waterfront. Kalau berjalan baik, tahun 2026 Jalan Sultan Muhammad juga akan dikembangkan menjadi kawasan kuliner,” tutupnya. (Mdr)












