BERKABAR.CO.ID – Pada Sidang Umum PBB 2025, Presiden Prabowo Subianto membawa sebuah tawaran mengejutkan untuk Palestina dan Israel.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia akan mengakui Israel, namun hanya jika Israel mengakui Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat.
Tawaran ini mengundang perhatian global, karena dianggap sebagai langkah baru yang lebih konstruktif untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah.
Tawaran Prabowo ini berpotensi bertolak belakang dengan sikap politik negara-negara yang selama ini secara konsisten mendukung Palestina.
Kebanyakan negara tersebut cenderung mengutuk tindakan Israel, bahkan sering kali mengangkat Palestina tanpa memberikan ruang untuk Israel.
Baca Juga : PBB Gagal Lagi Hentikan Perang Gaza, AS Jadi Penghalang Utama
Namun, Prabowo memilih untuk menawarkan jalan damai, bukan dengan menambah tekanan kepada Israel, melainkan dengan menciptakan situasi yang menguntungkan kedua belah pihak.
Secara moral dan kemanusiaan, banyak negara memihak Palestina karena melihat penderitaan rakyatnya.
Namun, tekanan yang terus-menerus terhadap Israel sepertinya tidak mengurangi sikap agresif negara tersebut.
Bahkan, Israel semakin menunjukkan agresivitas yang lebih besar, tidak hanya terhadap Palestina tetapi juga negara-negara sekitar seperti Iran dan Qatar.
Dari sisi sejarah, bangsa Israel memiliki trauma mendalam akibat pembantaian oleh Jerman Nazi dalam Perang Dunia II, yang dikenal dengan sebutan Holocaust.
Baca Juga : Presiden Prabowo Lantik 8 Dubes RI, Umar Hadi Ditugaskan ke PBB dan Indroyono ke AS
Trauma ini, bersama dengan ancaman yang terus-menerus dirasakan oleh orang Yahudi, telah membentuk karakter bangsa Israel yang memiliki semangat bertahan hidup dan kekuatan militer yang sangat canggih.
Sehingga, meningkatkan tekanan internasional terhadap Israel mungkin bukan solusi yang efektif. Sebaliknya, ada kemungkinan besar bahwa semakin Israel terpojok, senjata nuklir yang diduga dimilikinya bisa digunakan untuk mempertahankan diri, yang berpotensi membawa kerugian besar bagi seluruh dunia.
Sikap politik Prabowo di Sidang Umum PBB mengingatkan pada gagasan Presiden ke-4 Indonesia, Gus Dur, yang juga pernah membuka kemungkinan untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Gagasan ini bertujuan agar Indonesia bisa berperan lebih besar dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel.
Baca Juga : Sujiwo Pastikan PBB dan NJOP di Kubu Raya Tidak Akan Naik
Meskipun gagasan Gus Dur menuai penolakan saat itu, Prabowo kini kembali menawarkan alternatif yang lebih lembut namun penuh harapan.
Dalam pidatonya, Prabowo dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia tidak akan mengancam atau menyudutkan Israel.
Sebaliknya, Indonesia membuka ruang perdamaian untuk semua pihak. Namun, Prabowo juga menegaskan bahwa keadilan untuk Palestina harus tetap menjadi prioritas, dengan mengingat penderitaan rakyat Palestina akibat serangan Israel.
Prabowo juga mengutip Paus Leo XIV yang menyatakan bahwa “tidak ada masa depan yang dibangun di atas kekerasan, pengungsian paksa, atau pembalasan dendam.
” Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Prabowo yang ingin menyelesaikan masalah Palestina-Israel tanpa rasa balas dendam, tetapi dengan penyelesaian damai yang adil bagi kedua negara.
Baca Juga : Pemkot Pontianak Fokus Tingkatkan Realiasasi Penerimaan PBB di 2025
Sikap Prabowo ini membuka kemungkinan besar untuk tercapainya perdamaian yang lebih stabil di Yerusalem atau Al-Quds, kota suci bagi tiga agama besar dunia—Islam, Kristen, dan Yahudi.
Pandangan Prabowo ini juga memperlihatkan bahwa solusi perdamaian harus melibatkan kedua belah pihak, dengan pengakuan yang saling menguntungkan.
Sebagai negara yang dikenal dengan kebijakan luar negeri yang aktif dan diplomatis, Indonesia berperan besar dalam memperjuangkan keadilan dan damai di dunia.
Tawaran Prabowo untuk membuka jalan bagi pengakuan Israel, jika Israel mengakui Palestina, mungkin bukan solusi instan. Namun, ini adalah langkah yang dapat membuka dialog yang lebih konstruktif, tidak hanya untuk Palestina dan Israel, tetapi untuk stabilitas dunia.
Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB menunjukkan sebuah paradigma baru dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestina.
Baca Juga : Indonesia Tegaskan Komitmen Dukung Palestina! Siap Jadi Penjaga Perdamaian di Timur Tengah
Daripada terus-menerus meningkatkan tekanan, Prabowo mengusulkan sebuah solusi yang bisa memenangkan kedua belah pihak, yaitu dengan pengakuan timbal balik antara Israel dan Palestina.
Perdamaian bukan hanya tentang mengalahkan lawan, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih baik untuk semua. ***












