Gaza City Kembali Membara: Ribuan Warga Palestina Terpaksa Mengungsi di Tengah Serangan Udara Israel

Ilustrasi Langit Gaza City kembali dipenuhi kepulan asap hitam

BERKABAR.CO.ID – Langit Gaza City kembali dipenuhi kepulan asap hitam. Suara dentuman serangan udara Israel terdengar sepanjang siang dan malam, membuat ribuan warga Palestina harus meninggalkan rumah mereka.

Bagi sebagian besar warga, pengungsian bukanlah pilihan mudah, melainkan upaya terakhir untuk bertahan hidup.

Salah satunya adalah Mohammed Abu Rizq (45 tahun), warga lingkungan Shuja’iyya. Beberapa bulan lalu, rumahnya hancur lebur terkena serangan.

Kini, bersama istri dan kelima anaknya, ia tinggal di tenda sederhana di sekolah milik Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Gaza City barat.

“Meninggalkan Gaza City, tempat kami dilahirkan, seperti jiwa meninggalkan raga,” ujar Abu Rizq dengan suara lirih. “Kami tidak tahu apakah di tempat baru akan ada rumah, makanan, atau kebutuhan dasar lainnya.”

Baca Juga : Imbas Konflik Gaza, Warga Israel Ditolak Menginap di Italia dan Bosnia

Gaza City, daerah dengan populasi tertinggi di Jalur Gaza, telah menjadi pusat pengeboman selama berpekan-pekan. Permukiman, pasar, hingga fasilitas umum hancur porak-poranda.

Militer Israel berulang kali mendesak warga Gaza untuk pindah ke wilayah selatan. Juru bicaranya, Avichay Adraee, menyebut lebih dari 250.000 orang sudah meninggalkan kota itu.

“Gaza City adalah zona tempur yang berbahaya,” katanya.

Namun, perintah itu tidak semudah dilaksanakan. Bagi banyak warga, meninggalkan tanah kelahiran sama artinya dengan kehilangan identitas.

Mohammed Omar (38) adalah salah satu ayah yang mencoba peruntungan mengungsi. Bersama tiga anaknya, ia menempuh perjalanan 10 jam menuju wilayah Al-Masha’la di Deir al-Balah.

Baca Juga : Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza Tewas, Wakil Ketua MPR: Ini Pelanggaran Berat HAM

Untuk bisa mendirikan tenda di atas tanah tandus seluas 150 meter persegi, ia harus membayar 250 dolar AS per bulan, belum termasuk biaya perjalanan sebesar 500 dolar AS.

“Tidak ada kebutuhan dasar di sini. Tidak ada air, tidak ada listrik, tidak ada makanan. Bahkan untuk berteduh dari panas matahari pun sulit,” keluh Omar.

Organisasi lokal dan internasional terus menyuarakan keprihatinan. Mahmoud Basal, juru bicara Otoritas Pertahanan Sipil Gaza, memperingatkan bahwa masih banyak warga yang tidak bisa mengungsi karena sakit, usia lanjut, atau terluka.

“Proses pengungsian tidak bisa diakses oleh semua orang. Mereka yang tertinggal sangat rentan terhadap bahaya,” kata Basal.

Sementara itu, UNRWA melaporkan bahwa ribuan orang berjalan kaki meninggalkan Gaza City akibat minimnya transportasi dan bahan bakar.

Baca Juga : Buya Anwar Abbas Desak Dunia Arab Bersatu Hadapi Israel Usai Pernyataan Netanyahu

Fasilitas UNRWA kini kewalahan menampung pengungsi. Kepadatan menyebabkan kelangkaan air bersih, makanan, dan sanitasi, yang berpotensi memicu wabah penyakit.

Pada Senin lalu, serangan Israel menghancurkan Menara al-Ghifari, sebuah gedung 16 lantai yang dikenal sebagai pusat media dan komersial di Gaza City barat. Hanya dalam hitungan hari, puluhan bangunan lain juga rata dengan tanah.

Menurut otoritas kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, sedikitnya 34 orang tewas dalam 24 jam terakhir, sebagian besar di Gaza City. Total korban jiwa sejak Oktober 2023 kini mencapai 64.905 orang.

Meski banyak yang memilih pergi, ada juga warga yang bertahan. Suhaila Ishtiwi (55), seorang ibu yang tinggal di Gaza barat, menolak mengungsi meski ancaman serangan terus menghantui.

“Bagi kami, mengungsi dan meninggalkan Gaza City adalah perjalanan menuju kematian,” katanya sambil memanggang roti di oven darurat. “Ke mana kami bisa pergi? Tidak ada tempat perlindungan, tidak punya tenda, dan tidak mampu membayar biaya untuk mengungsi.”

Baca Juga : Wali Kota Hebron Palestina Ditangkap, MUI Sebut Israel Langgar HAM Internasional

Setiap langkah warga Gaza dipenuhi ketidakpastian. Mengungsi berarti menanggung biaya besar dan menghadapi kondisi minim fasilitas. Bertahan berarti terus hidup di bawah ancaman bom dan serangan.

Dalam situasi yang serba sulit ini, satu hal yang pasti: krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk, dan setiap hari ribuan jiwa dipaksa memilih antara hidup dan mati. ***